JAKARTA - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin mengatakan, secara garis besar ada faktor yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi (PE) yang melambat di angka 4,7% pada kuarrtal I. Terutama produksi di beberapa sektor mengalami pergeseran sehingga berpengaruh besar terhadap PE.
Menurutnya, produksi pangan berpengaruh besar karena mundurnya periode tanam sehingga menyebabkan panen raya mundur. "Selain itu, produksi minyak mentah dan batu bara juga turun. Maka kilang minyak kita tumbuh negatif. Distribusi perdagangan melambat karena suplai demand menurun serta kinerja konstruksi melambat karena melambatanya realisasi belanja infrastruktur," jelasnya di Jakarta, Selasa (5/5/2015).
Sementara, dari segi pengeluaran anggaran, Suryamin mengatakan, semua konsumsi rumah tangga pengeluarannya melambat kecuali makanan dan minuman, tembakau, dan perumahan serta perlengkapan rumah tangga.
Konsumsi pemerintah juga melambat karena belanja barang modal melambat. Hal ini karena pertumbuhan belanja barang tidak agresif. "Selain itu, realisasi belanja modal pemerintah untuk infrastruktur lebih rendah saat ini sehingga impor barang modal turun terutama jenis alat angkut dan mesin. Industri mesin domestik juga turun, jadi tidak bisa menyuplai dan mensubstitusi barang impor," jelas dia.
Untuk ekspor barang, juga mengalami penurunan karena turunnya harga komoditi juga melambatnya ekonomi mitra dagang Indonesia.
"Terakhir, sektor jasa yang mengalami penurunan karena turunya rata-rata pertumbuhan wisman yang berkunjung ke Indonesia," pungkas Suryamin.
sumber (ekbis.sindonews.com)
Untuk yang dibold, masalahnya adalah ini
Ekonomi China berkontraksi
BEIJING. Tekanan kepada Pemerintah China untuk menambah stimulus demi menopang pertumbuhan ekonomi semakin besar. Data terbaru HSBC Holdings Plc dan Ekonomi Markit menunjukkan, indeks pembelian manager alias the purchasing manager's index (PMI) China pada bulan April 2015 berada di level 48,9.
Asal tahu saja, angka 50 adalah batas tengah yang memisahkan antara ekspansi dan kontraksi. Jika indeks di atas 50 menandakan ekonomi suatu negara tumbuh. Sebaliknya, apabila indeks di bawah 50 berarti ekonomi suatu negara sedang berkontraksi.
"Saya pikir itu indeks terlemah sementara ini dan memperlihatkan kontraksi berurutan terus menerus," ujar Julia Wang, Ekonom China di HSBC seperti dikutip CNBC.
Meski volume ekspor China menunjukkan perbaikan, jumlah pesanan pabrik secara melorot. Ini tercermin dari indeks yang turun tajam dalam satu tahun terakhir ke level 48,7 pada April 2015. Menurut catatan Markit, permintaan domestik relatif lemah dan ini menjadi pendorong utama penurunan bisnis.
Menurutnya, produksi pangan berpengaruh besar karena mundurnya periode tanam sehingga menyebabkan panen raya mundur. "Selain itu, produksi minyak mentah dan batu bara juga turun. Maka kilang minyak kita tumbuh negatif. Distribusi perdagangan melambat karena suplai demand menurun serta kinerja konstruksi melambat karena melambatanya realisasi belanja infrastruktur," jelasnya di Jakarta, Selasa (5/5/2015).
Sementara, dari segi pengeluaran anggaran, Suryamin mengatakan, semua konsumsi rumah tangga pengeluarannya melambat kecuali makanan dan minuman, tembakau, dan perumahan serta perlengkapan rumah tangga.
Konsumsi pemerintah juga melambat karena belanja barang modal melambat. Hal ini karena pertumbuhan belanja barang tidak agresif. "Selain itu, realisasi belanja modal pemerintah untuk infrastruktur lebih rendah saat ini sehingga impor barang modal turun terutama jenis alat angkut dan mesin. Industri mesin domestik juga turun, jadi tidak bisa menyuplai dan mensubstitusi barang impor," jelas dia.
Untuk ekspor barang, juga mengalami penurunan karena turunnya harga komoditi juga melambatnya ekonomi mitra dagang Indonesia.
"Terakhir, sektor jasa yang mengalami penurunan karena turunya rata-rata pertumbuhan wisman yang berkunjung ke Indonesia," pungkas Suryamin.
sumber (ekbis.sindonews.com)
Untuk yang dibold, masalahnya adalah ini
Ekonomi China berkontraksi
BEIJING. Tekanan kepada Pemerintah China untuk menambah stimulus demi menopang pertumbuhan ekonomi semakin besar. Data terbaru HSBC Holdings Plc dan Ekonomi Markit menunjukkan, indeks pembelian manager alias the purchasing manager's index (PMI) China pada bulan April 2015 berada di level 48,9.
Asal tahu saja, angka 50 adalah batas tengah yang memisahkan antara ekspansi dan kontraksi. Jika indeks di atas 50 menandakan ekonomi suatu negara tumbuh. Sebaliknya, apabila indeks di bawah 50 berarti ekonomi suatu negara sedang berkontraksi.
"Saya pikir itu indeks terlemah sementara ini dan memperlihatkan kontraksi berurutan terus menerus," ujar Julia Wang, Ekonom China di HSBC seperti dikutip CNBC.
Meski volume ekspor China menunjukkan perbaikan, jumlah pesanan pabrik secara melorot. Ini tercermin dari indeks yang turun tajam dalam satu tahun terakhir ke level 48,7 pada April 2015. Menurut catatan Markit, permintaan domestik relatif lemah dan ini menjadi pendorong utama penurunan bisnis.
"Akibatnya, pekerjaan di sektor ini terus menurun, sementara aktivitas pembelian jatuh pada tingkat tercepat dalam 13 bulan," tulis Markit.
Ekonomi China dihadapkan sejumlah faktor yang menghambat pertumbuhan dalam beberapa bulan terakhir. Antara lain kondisi global yang melemah, lesunya pasar domestik dan perlambatan industri properti. Pada tahun lalu, pertumbuhan ekonomi China hanya 7,4%, laju paling lambat sejak tahun 1990.
Pemerintah China tak tinggal diam melihat pertumbuhan ekonomi terancam turun. Beberapa kebijakan moneter diambil untuk merangsang pertumbuhan ekonomi. Sejak November 2014 lalu hingga Mei 2015, Bank Sentral China alias People Bank of China (PBOC) telah memangkas suku bunga hingga dua kali.
Selain itu, PBOC juga telah menurunkan rasio persyaratan giro wajib minimum bank-bank besar sebanyak dua kali. Harapannya, perbankan mampu memberikan pinjaman kepada para perusahaan untuk menambah belanja modalnya dan mengerek pasar properti yang melemah.
"Kami berpikir bahwa pada kuartal ketiga nanti, ekonomi China akan menjadi cukup sulit," ujar Tony Nash, Wakil Presiden Delta Economics.
Pangkas suku bunga
Larry Hu, Kepala Ekonom China di Macquarie Securities, Hong Kong mengatakan, Negeri Tembok Besar tersebut belum lepas dari ancaman penurunan pertumbuhan ekonomi. Ia memperkirakan, Bank Sentral China akan kembali memangkas suku bunga untuk kedua kalinya pada tahun ini di bulan Mei.
"Ini cukup jelas bahwa pembuat kebijakan akan meningkatkan stimulus," ujar Larry seperti dikutip Bloomberg.
Fielding Chen dan Tom Orlik, ekonom Bloomberg menulis dalam sebuah catatan bahwa pencapaian pada bulan April lalu bisa berisiko terhadap target pertumbuhan ekonomi Pemerintah China yakni sebesar 7%. Menurut kedua ekonom tersebut, desakan untuk memotong suku bunga pada bulan Mei makin menguat.
Sementara, Wang Tao, Kepala Ekonom China di UBS Group AG, Hong Kong mengharapkan Pemerintah China mempercepat investasi infrastruktur guna menghidupkan kembali pertumbuhan ekonomi. "Dukungan ditingkatkan dari kebijakan bank dan memotong suku bunga acuan," jelas Wang Tao.
sumur (internasional.kontan.co.id)
Komoditi Indonesia 70% pangsa pasarnya adalah India dan China (terutama batubara dan CPO/sawit). Tadi begitu baca Purchasing Manager Index (PMI) di China masih di bawah 50 itu berarti Kiamat Kecil buat Industri dan Pemilik Kebun/Tambang. Terjadi penurunan penjualan ekspor terlihat dari PMI negara langganan kita melemah. Sudah seharusnya kita alihkan pasar produk kita ke Regional lain, namun biasanya region Eropa dan Amerika itu requirementnya sangat ketat dibanding masuk ke China. Namun kenyataannya (dikutip dari "The Real President" kita) di kita itu lebih mentingin Manusia daripada Orang Utan (kebetulan id gw Orang Hutan juga ), gimana mau membuat keranjang lebih banyak klo pola pikirnya cuma bagaimana memperbanyak telur.
Dikutip dari: http://adf.ly/1GLEZo


