INILAHCOM, Jakarta � Rhoma Irama adalah sosok kebal hinaan. Puluhan tahun dinistakan, semua dijawab konsisten dengan karya dan perbuatan.
Sementara eksistensi Rhoma masih menyala, kemana kini�katakan saja, Benny Subardja, anggota grup musik rock Giant Step, yang di awal 1970-an mencap musik dangdut sebagai �musik tai anjing�? Konon, sebentar menyisihkan kemungkinan pencipta nama �dangdut� itu Putu Wijaya dalam tulisannya di Majalah Tempo awal 1970-an, editor majalah musik Aktuil pun awalnya memunculkan istilah �dangdut� tak lebih sebagai cemooh.
�Itu penghinaan kaum the haves kepada kami, kalangan miskin, untuk pola irama gendang yang rancak dalam musik ini,� kata Rhoma Irama, kepada Prof Andrew Weintraub, yang kemudian menulis buku soal dangdut. �Itu cemooh.�
Rhoma, saat itu masih bernama Oma, membalasnya dengan menggubah lagu yang diberi judul cemoohan itu, �Dangdut�. Lagu itu meledak dan kini kita mengenalnya dengan judul �Terajana�. Apa kabar para penghujatnya? Gian Step sudah lama tumbang keberatan langkah, sementara majalah Aktuil telah dikubur menjadi marhum.
Jadi, bila kini Rhoma banyak dicemooh gara-gara �kasus� pencantuman kata profesor dalam balihonya, sang Raja Dangdut itu tampak tenang-tenang saja. �Saya risih dengan sebutan profesor itu. Karena itu tak pernah saya gunakan. Tidak di kartu nama, tidak di dokumen-dokumen Soneta,� kata Rhoma. Soal penambahan gelar di balihonya, menurut dia itu semata inisiatif tim pendukungnya.
Tetapi soal gelar itu, Rhoma menganggapnya sah. �Saya dapatkan tahun 2005 dari sebuah universitas Amerika. Tak pernah membayar seperak pun,� kata Rhoma. Ia memungkas percakapan pendek itu dengan,� Panggil saya Rhoma saja.�
Kini, marilah kita bicara soal itu dengan lebih jernih dan biarkan syak wasangka terendap. Sebenarnya, siapa bisa bilang gelar profesor untuk Rhoma Irama tidak tepat?
Bila kita sedikit membuka catatan saja, Sardono W Kusumo sang koreografer tari klasik, bukankah ia profesor di LPKJ? Lalu Ajip Rosjidi, yang tidak tamat SMA, adalah profesor Sastra Indonesia di Universitas Sophia, Jepang? Jangan juga lupa akan alm. Jack Lesmana, yang menjadi profesor musik Jazz di Konservatorium Musik, Sydney, Australia.
Ajip diangkat sebagai profesor itu bukan karena prestasi akademik, tak juga karena doktor sebagaimana Mendiknas Nuh katakan. Tapi karena kesastrawanannya, karena pengetahuan dan dedikasinya kepada sastra Indonesia.
Kalau kemudian ada argumen bahwa mereka lain karena mengajar, Ajip pun sebelum menjadi profesor di Jepang itu belum pernah mengajar secara resmi. Juga Sardono dan Jack. Mungkin saja mengajar, di kelas seni, tanpa lisensi resmi dari lembaga negara semacam Kemendiknas.
Sementara eksistensi Rhoma masih menyala, kemana kini�katakan saja, Benny Subardja, anggota grup musik rock Giant Step, yang di awal 1970-an mencap musik dangdut sebagai �musik tai anjing�? Konon, sebentar menyisihkan kemungkinan pencipta nama �dangdut� itu Putu Wijaya dalam tulisannya di Majalah Tempo awal 1970-an, editor majalah musik Aktuil pun awalnya memunculkan istilah �dangdut� tak lebih sebagai cemooh.
�Itu penghinaan kaum the haves kepada kami, kalangan miskin, untuk pola irama gendang yang rancak dalam musik ini,� kata Rhoma Irama, kepada Prof Andrew Weintraub, yang kemudian menulis buku soal dangdut. �Itu cemooh.�
Rhoma, saat itu masih bernama Oma, membalasnya dengan menggubah lagu yang diberi judul cemoohan itu, �Dangdut�. Lagu itu meledak dan kini kita mengenalnya dengan judul �Terajana�. Apa kabar para penghujatnya? Gian Step sudah lama tumbang keberatan langkah, sementara majalah Aktuil telah dikubur menjadi marhum.
Jadi, bila kini Rhoma banyak dicemooh gara-gara �kasus� pencantuman kata profesor dalam balihonya, sang Raja Dangdut itu tampak tenang-tenang saja. �Saya risih dengan sebutan profesor itu. Karena itu tak pernah saya gunakan. Tidak di kartu nama, tidak di dokumen-dokumen Soneta,� kata Rhoma. Soal penambahan gelar di balihonya, menurut dia itu semata inisiatif tim pendukungnya.
Tetapi soal gelar itu, Rhoma menganggapnya sah. �Saya dapatkan tahun 2005 dari sebuah universitas Amerika. Tak pernah membayar seperak pun,� kata Rhoma. Ia memungkas percakapan pendek itu dengan,� Panggil saya Rhoma saja.�
Kini, marilah kita bicara soal itu dengan lebih jernih dan biarkan syak wasangka terendap. Sebenarnya, siapa bisa bilang gelar profesor untuk Rhoma Irama tidak tepat?
Bila kita sedikit membuka catatan saja, Sardono W Kusumo sang koreografer tari klasik, bukankah ia profesor di LPKJ? Lalu Ajip Rosjidi, yang tidak tamat SMA, adalah profesor Sastra Indonesia di Universitas Sophia, Jepang? Jangan juga lupa akan alm. Jack Lesmana, yang menjadi profesor musik Jazz di Konservatorium Musik, Sydney, Australia.
Ajip diangkat sebagai profesor itu bukan karena prestasi akademik, tak juga karena doktor sebagaimana Mendiknas Nuh katakan. Tapi karena kesastrawanannya, karena pengetahuan dan dedikasinya kepada sastra Indonesia.
Kalau kemudian ada argumen bahwa mereka lain karena mengajar, Ajip pun sebelum menjadi profesor di Jepang itu belum pernah mengajar secara resmi. Juga Sardono dan Jack. Mungkin saja mengajar, di kelas seni, tanpa lisensi resmi dari lembaga negara semacam Kemendiknas.
Tetapi dalam keahlian dan kredibilitas sesuai bidangnya, siapa bisa meragukan mereka, juga Rhoma? Mantan Menristek Muhammad AS Hikam menulis tegas di laman pribadinya. Menurut Hikam, dirinya sama sekali tidak kaget dengan kabar profesornya Rhoma itu. Bagi Hikam, kalau Rhoma diakui berjasa dalam soal musik, itu sangat layak. Bahkan lebih layak dari sementara orang yang membeli gelar DR atau mendapat gelar DrHC tetapi tidak punya capaian apa pun yang bisa dibanggakan.
�Rhoma adalah perintis sebuah genre musik dunia, dan levelnya tidak di bawah para musisi dunia lainnya. Kalau kemudian ada yang mengakuinya sebagai guru besar dalam musikologi, itu sah-sah saja. Apalagi aturan main gelar itu di setiap negara tidak sama,� kata Hikam, yang mengaku berbeda pandangan dengan Mendiknas Muhammad Nuh.
Hanya yang membuatnya kaget, mengapa Rhoma mau menerima gelar profesor dari American University of Hawaii, yang menurut dia belum jelas kredibilitasnya.
�Jadi, lembaganya yang membuat kaget. Rhoma punya nama cukup besar dalam khazanah musik dunia, dan ia sangat layak jika dianugerahi baik DrHC maupun profesor dalam musikologi dari universitas paling ternama di AS atau di mana pun di dunia ini,� kata Hikam. �Dalam urusan musik, Rhoma has remained one of the world music legends ever!�
Pendapat itu bukan karena mungkin Hikam senang dangdut. Sekitar tiga dekade lalu, peneliti AS, William H. Frederick, menyatakan penggemar Rhoma bisa diperkirakan berjumlah 15 juta, atau bahkan lebih. Itu berarti sekitar 10 persen penduduk Indonesia masa itu. �Tak ada jenis kesenian mutakhir yang memiliki lingkup demikian luas,� kata Frederick.
Sebutan raja dangdut buat Rhoma itu tak hanya lokal Indonesia, tetapi mendunia. Itu dimungkinkan berbagai kajian tentang dangdut�dan dirinya, yang dipopulerkan tak hanya oleh Frederick, melainkan pula, antara lain, Yampolsky, Pioquinto, Taylor, Broughton dan Ellingham, Sutton, Capwell dan yang agak mutakhir, Weintraub.
Weintraub bahkan melihat sisi Rhoma sebagai seorang revolusioner, yang tak sengaja menanam benih-benih perlawanan kepada kaum jelata akan kemapanan. Dari 307 lagu Rhoma yang dikajinya, lebih dari setengahnya bicara tentang moral, persamaan derajat, keluhuran budi, serta kepedulian sosial.
�...Rhoma seolah menjadi pembangun keseimbangan: memonitor kehidupan kaum elite, dan mendistribusikannya ke kaum kebanyakan. Seperti dikatakannya dalam lirik lagunya: Bagi mereka yang punya uang, berdansa-dansa di night club. Bagi kita yang tak punya uang, cukup berjoget di sini...�tulis sebuah artikel di majalah Tempo, Juli 1984.
Tanpa menyisihkan Iwan Fals yang tidak dikajinya, Weintraub berkesimpulan bahwa Rhoma, disadari atau tidak, adalah seorang revolusioner yang gigih menanamkan kesadaran diri kepada khalayak. Pengabdian yang pada 1998 membuahkan hasilnya. Hanya tidak sebagaimana Tan Malaka, revolusioner yang kesepian, sebagai raja dangdut, Rhoma justru hiruk pikuk dengan bebunyian.
Hal seperti juga terjadi pada Jokowi. Hanya tak mungkin ditulis dalam artikel ini. Kepanjangan nanti. [dsy]
sumber http://nasional.inilah..com/read/det...k#.UxQBpfl_s-I
TS :
Bukan TS yang bilang loh, tapi wartawan yang bilang jokowi dan rhoma selevel



