
Ilustrasi (dok)
JAKARTA (IndoTelko) – Kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi diyakini tak akan menganggu kinerja dari penyedia menara di tahun 2015.
"Biaya operasional menara memang akan naik, tetapi tak menekan kinerja perusahaan menara," ungkap Ketua Umum Asosiasi Pengembang Infrastruktur Menara Telekomunikasi (ASPIMTEL) David Bangun, kemarin.
Diperkirakannya, biaya operasional menara telekomunikasi naik sebesar 6%-10% pada tahun depan karena kenaikan BBM yang memicu inflasi. "Bisa saja ada perusahaan menara yang tertekan kinerjanya karena inflasi, tetapi tak besar, hanya dikisaran 2%-3% pada tahun depan," katanya.
Diungkapkannya, di bisnis menara biaya listrik merupakan komponen terbesar dalam biaya operasional. Rata-rata berkisar 40% terhadap biaya operasional atau 15% terhadap total pendapatan. Sedangkan biaya operasional per menara bisa mencapai Rp 4 juta-Rp 5 juta per bulan
"Biaya operasional hanya berkontribusi 20% terhadap total pendapatan mereka. Artinya kenaikan BBM hanya berdampak kecil terhadap pendapatan usaha," pungkasnya.
Sebelumnya dalam analisa Masons jumlah menara di Indonesia akan terus tumbuh dari 73 ribu site di 2013 menjadi 94 ribu di 2019 dengan tenancy ratio 1.78 di 2013 menjadi 1.98 di 2019. Sedangkan biaya operasional per menara per bulan di kisaran US$ 582. (wn)
sumber :
BBM Naik, Bisnis Menara masih Membara
Dikutip dari: http://adf.ly/uYoZy


