SITUS BERITA TERBARU

Layanan Buruk RS Cut Meutia, Mulai dari "Permainan" Obat Hingga Dokter Jarang Masuk

Sunday, November 30, 2014
Aceh telah lama menerapkan pelayanan kesehatan gratis bagi warga miskin, yang sebelumnya bernama Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) dan kini berubah menjadi Jaminan Kesehatan Rakyat Aceh (JKRA). Program tersebut pun menjadi program yang paling dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, dan menjadi contoh bagi pemerintah pusat yang juga turut memprogramkan kesehatan gratis bagi warga miskin, yakni Jaminan Kesehatan Nasional (kini BPJS).

Namun, program layanan kesehatan gratis tersebut tidak sepenuhnya berjalan dengan baik, di mana banyak pasien mengeluhkan layanan yang diberikan oleh tenaga medis di rumah sakit. Seperti hanya pelanan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cut Meutia Aceh Utara, dimana terdapat sejumlah "kejanggalan" dalam pelayanan medis terhadap pasien.

Sejumlah keluarga pasien, khususnya warga yang berasal dari pedalaman Aceh Utara, mengeluhkan layanan buruk dari pihak RSUD Cut Meutia. Pasalnya, para keluarga pasien menduga adanya "permainan" obat yang dilakukan oleh para tenaga medis di RS tersebut, di mana keluarga pasien diminta untuk menebus obat hingga dua atau tiga kali dalam sehari, namun obat yang diambil di apotik di RS tersebut, tidak seluruhnya digunakan ke pasien.

"Kami heran, masak dalam sehari sampai beberapa kali dikasih resep. Walaupun kami tidak bayar (ditanggung pemerintah melalui JKRA), tetapi aneh saja, obatnya tidak diberikan ke pasien," kata Tgk Amin, warga Langkahan Kabupaten Aceh Utara kepada acehonline.info belum lama ini.

Tgk Amin menjelaskan, setiap pagi, perawat memberikan resep obat kepada keluarga pasien untuk ditebus ke apotik di RS tersebut. Obat tersebut seperti obat minum, obat suntik, serta cairan infus. Namun, menurutnya, obat tersebut tidak diberikan kepada pasien. Malah, kata jelas Tgk Amin, pada sore hari ketika pergantian perawat lain, keluarga pasien kembali disodorkan resep baru untuk kembali menebus obat ke apotik.

"Yang tadi pagi saya ambil tidak tahu dibawa ke mana obatnya. Nggak ada pun disuntik kecuali infus yang 3 botol saya ambil, itupun cuma satu atau dua yang dipasang, sedangkan disuntik tidak ada. Malah sore atau malam kadang disuruh ambil obat lagi," ujarnya.

"Bukannya saya tidak mau ambil obat sebentar-bentar, tetapi heran aja obatnya banyak tetapi tidak dipakai (digunakan ke pasien). Kan sayang obatnya mubazir atau takutnya ntar malah dijual lagi. Yang anehnya, masalah tebus obat ini bukan saya saja, keluarga pasien lain juga rata-rata mengalami hal yang sama," tambahnya.

Hal senada juga dialami Faisal, warga Meurah Mulia Kabupaten Aceh Utara. Menurutnya, perawat sangat sering menyodorkan resep kepada keluarga pasien, untuk menebus obat. Namun, obat yang ditebus ke apotik tidak terlihat dipakai perawat untuk keluarga mereka yang sakit.

"Bisa bangkrut pemerintah kalau gini, obat bentar-bentar disuruh ambil, tetapi tidak dipakai. Mending uangnya dibagi-bagi aja ke masyarakat miskin, daripada jadi 'proyek' rumah sakit seperti ini," ungkap Faisal.

Selain persoalan obat, beberapa keluarga pasien juga mengeluhkan persoalan dokter yang jarang masuk dan memeriksa keadaan pasien. Banyak pasien rawat inap yang dalam keadaan sakit berat, hanya diinfus oleh perawat hingga beberapa hari.

"Kami ke rumah sakit berharap ada dokter yang memeriksa dan mengobati keluarga kami, tapi dokter malah jarang masuk dan tidak jelas penanganan yang diberikan. Contohnya isteri saya selalu pendarahan, akibat sebulan lalu melahirkan, namun kata dokter setelah cuma dipegang-pegang perut katanya tidak apa-apa, tetapi istri saya terus mengeluarkan darah. Masak keluar darah gitu tidak apa-apa," keluh Faisal.

"Kami memang orang miskin dan kami sadar kami di sini berobat gratis karena tidak mampu membayar, tetapi jangan lah keluarga kami yang sakit terlantar seperti ini. Walau kami tidak bayar, kan pihak rumah sakit dibayar sama pemerintah, jadi tolonglah pihak rumah sakit melihat kinerja dokter mereka. Janga sampai pasien meninggal sendiri tanpa ada pertolongan," tambahnya.

Sementara itu, Wakil Direktur RSUD Cut Meutia, Iskandar, saat dikonfirmasi acehonline.info terkait pengambilan obat yang dikeluhkan keluarga pasien, membantah adanya "permainan" yang dilakukan pihak rumah sakit.

"Setiap pasien sudah diresepkan sesuai diagnosa oleh dokter, minimal pasien mendapat obat setiap enam atau delapan jam. Setiap pengambilan obat ke apotik, tidak akan lebih karena sudah sesuai kebutuhan dosis pasien," jelasnya.

Pemberian resep obat hingga beberapa kali, Iskandar menjelaskan, dilakukan oleh dokter berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap pasien. Obat yang ditebus pagi hari, menurutnya, akan digunakan hingga sore hari, sedangkan resep yang diberikan pada sore hari, merupakan untuk kebutuhan obat pasien saat malam hingga pagi hari.

"Jadi tidak akan ada penggelembungan klaim atau obat tidak habis, karena sudah berdasarkan kebutuhan pasien berdasarkan diagnosis dokter," jelasnya.

Sementara itu mengenai persoalan dokter, Iskandar menjelaskan, dokter yang menangani pasien telah memiliki jadwal masing-masing dalam memeriksa atau menangani pasien yang sakit.

"Jika ada yang tidak masuk, itu mungkin sedang melakukan operasi atau melayani pasien rawat jalan. Tetapi jika sudah ada waktu, pasti dokter itu langsung memeriksa pasien di setiap ruangan," ujarnya.

Untuk persoalan dokter, Iskandar mengakui, RSUD Cut Meutia sangat kekurangan dokter dalam hal menangani pasien yang membludak, setelah adanya pelayanan kesehatan gratis yang diberlakukan pemerintah.

"Dokter di sini memang sangat minim, khususnya spesialis jantung dan bedan. Terkadang kami kewalahan menangani pasien, sehingga terpaksa harus dirujuk ke Banda Aceh. Kami sudah berupaya melaporkan persoalan ini ke pemerintah, namun belum adanya solusi, sehingga terpaksa kami harus mengontrak dokter-dokter di luar untuk dapat bekerja di sini, sedangkan dokter tetap sangat terbatas," imbuhnya. (SUMBER)

Link: http://adf.ly/ulmkZ
SHARE THIS POST:
FB Share Twitter Share

Blog Archive