Matahari baru saja menampakan diri di ufuk timur. Kabut tipis masih menyelimuti udara dingin dipagi hari. Sang mentari masih tersipu malu untuk memberikan cahanya. Dari dalam sebuah bangunan puskesmas, tiba-tiba muncul sosok wanita tua renta dengan membawa alat pembersih lantai. Keriput dan kondisi fisik yang sudah ujur mencirikan usia yang sudah terbilang tua. Dibalut sehelai kerudung membuat Hapsa (80) terlihat sudah merasakan pahit dan getirnya kehidupan.


NENEK Hapsah, begitu biasanya dia dipanggil oleh warga sekitar. 17 tahun sudah dirinya mendedikasikan dirinya untukmembantu membersihkan Puskesmas. Hapsah sudah tidak ingat kapan dirinya dilahirkan, angka 1934 menjadi patokan untuk menghitung usianya. Nenek berusia 80 tahun ini bahkan rela bekerja tanpa ada tunjangan gaji yang resmi dari pemerintah. �Saya dari awal membantu disini memang tak menerima upah, tapi saya ikhlas melakukan semua ini,� ucap Hapsah lirih kepada Metropolitan belum lama ini.
Nenek dengan 7 orang anak ini menuturkan, bahwa dirinya setiap hari melakukan pekerjaan di puskesmas pembantu (pustu) Desa Jampang, Kecamatan Gunung Sindur. Mulai dari menyapu, mengepel lantai bahkan membersihkan rumput di halaman gedung puskesmas tersebut. Kadang selesai melakukan pekerjaan disitu, nenek Hapsah juga melakukan pekerjaan yang sama di mushola An nuroniyah yang kebetulan letaknya tak berjauhan.
Sejak ada ibu Rahmah dan Ibu Icah, sekarang setiap hari saya masih bisa dapat uang untuk jajan,� tuturnya sembari melemparkan senyum. Puskesmas hanya bisa membantu uang alakadarnya atas jasa yang dilakukan Hapsah. ¨Kami sisikan uang administrasi pasien, meski terbilang jarang tapi kami berusaha pakai kocek sendiri, ¨ucap Rahmah yang menjabat sebagai Bidan. (ger/b/rif)
sumber : Harian Metropolitan


