
Menurut Tjahjo, penentuan pendamping Jokowi harus ditentukan di saat-saat akhir karena harus dipilih dengan cermat. Menurut dia, penentuan itu merupakan hal penting dan strategis serta sangat menentukan masa depan bangsa dan negara Indonesia.
PDI Perjuangan, kata Tjahjo, terus mempersiapkan diri memasuki tahapan pemilu presiden dengan mempersiapkan tim kampanye, badan pemenangan pemilu presiden partai. Partai, dia menambahkan, juga menyusun strategi pemenangan dan menggalang kekuatan pendukung kepemimpinan Jokowi.
PDI Perjuangan membentuk koalisi yang beranggotakan empat partai untuk mengusung Jokowi sebagai calon presiden. Koalisi ini akan bersaing dengan poros yang dipimpin Partai Gerakan Indonesia Raya. Kedua poros tersebut belum menentukan nama calon wakil presiden.
Dua koalisi tersebut berpotensi mendapat saingan baru. Partai Golongan Karya dan Partai Demokrat menggulirkan rencana membuat poros ketiga. Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono berpendapat koalisi baru ini tergantung pada sikap Golkar. Menurut SBY, koalisi baru bisa menguatkan pemilihan presiden yang idealnya menampilkan tiga calon.
Hari ini, Golkar dan Demokrat secara terpisah menggelar rapat pimpinan nasional. Agenda utama rapat tersebut adalah menentukan langkah strategis partai menghadapi pemilihan presiden. Golkar sendiri pada pemilihan legislatif lalu finish di urutan kedua dengan perolehan suara 14,75 persen. Golkar mengusung Aburizal Bakrie sebagai calon presiden. Adapun Demokrat berada di urutan keempat dengan perolehan 10,19 persen. Partai Mercy telah menyelesaikan konvensi calon presiden dengan Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan sebagai pemenangnya.
SUMBER


