MERDEKA.COM. Puluhan buruh yang tergabung dalam Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) DKI Jakarta melakukan demonstrasi di depan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi DKI Jakarta untuk menuntut kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP). Besaran UMP yang diminta oleh KASBI untuk pekerja lajang yaitu Rp 3.767.389 dari yang berlaku saat ini yaitu Rp 2.441.000.
"Kami menuntut pemerintah khususnya Disnakertrans DKI Jakarta supaya dalam menetapkan UMP nanti benar-benar sesuai dengan kebutuhan riil kaum buruh," kata Koordinator Aksi, Sunarno di Jakarta, Senin (3/11).
KASBI menilai UMP yang ditetapkan oleh Dewan Pengupahan Provinsi dan Gubernur saat ini hanya mengacu pada kebutuhan hidup minimum, sangat jauh dari besarnya pengeluaran secara riil.
"Banyak buruh yang terpaksa harus bekerja lembur atau mengambil kerja sampingan agar kebutuhan riil mereka tercukupi," ujar Sunarno.
KASBI juga menuntut revisi atas Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No 13 Tahun 2012 terkait dengan komponen penentu Kebutuhan Hidup Layak (KHL) dari 60 item menjadi 80 item.
Selain itu KASBI juga menolak rencana pemerintah untuk menaikkan harga BBM sebesar 46 persen karena akan berdampak besar bagi kenaikan harga kebutuhan hidup lain.
Sunarno mengatakan aksi ini akan dilanjutkan ke Balai Kota DKI Jakarta untuk bertemu dengan Plt Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). "Setelah ini kami akan mengadakan aksi lanjutan pada 6 dan 12 November ke Balai Kota DKI Jakarta dan DPR-RI," katanya.
Merdeka
Salah Satu Orang Terkaya di Jepang, Shoji Uehara Sang Raja Farmasi Jepang, Ternyata Memilih Hidup Sederhana, Bahkan Lebih Sederhana Dari Buruh.
Meski kaya raya, Shoji Uehara justru menghindari hingar bingar. Pemegang kepimpinan tertinggi dari Taisho Pharmaceutical, perusahaan farmasi terbesar di Jepang, ini menampilkan diri layaknya eksekutif pada umumnya. Ia tinggal di rumah yang sederhana, berangkat kerja jalan kaki, dan makan siang dengan biskuit dan teh di mejanya. Akan tetapi majalah Forbes memperkirakan kekayaannya hampir sebesar 1 miliar dolar Amerika atau 10 Trilliun Rupiah.
Hidup sederhana
Di dalam perusahaan, ia dikenal sebagai GHQ atau "Goes Home Quickly" karena sepulang kerja, ia selalu langsung pulang ke rumah, bukannya minum-minum sebagaimana mayoritas eksekutif Jepang setelah bekerja. Dia tidak minum atau merokok, sebagian karena masalah kesehatan. Sedangkan kesamaan antara Uehara dengan pekerja kantoran pada umumnya adalah, ia selalu menyerahkan amplop gajinya kepada sang istri setiap bulan. Ia hanya akan menghabiskan sekitar $70 per bulan dan $70 tambahan untuk membeli buku. Total pengeluaran tidak sampai 2 juta rupiah per bulan ini tentunya bahkan lebih murah dari tuntutan hidup buruh Indonesia.
"Kami menuntut pemerintah khususnya Disnakertrans DKI Jakarta supaya dalam menetapkan UMP nanti benar-benar sesuai dengan kebutuhan riil kaum buruh," kata Koordinator Aksi, Sunarno di Jakarta, Senin (3/11).
KASBI menilai UMP yang ditetapkan oleh Dewan Pengupahan Provinsi dan Gubernur saat ini hanya mengacu pada kebutuhan hidup minimum, sangat jauh dari besarnya pengeluaran secara riil.
"Banyak buruh yang terpaksa harus bekerja lembur atau mengambil kerja sampingan agar kebutuhan riil mereka tercukupi," ujar Sunarno.
KASBI juga menuntut revisi atas Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No 13 Tahun 2012 terkait dengan komponen penentu Kebutuhan Hidup Layak (KHL) dari 60 item menjadi 80 item.
Selain itu KASBI juga menolak rencana pemerintah untuk menaikkan harga BBM sebesar 46 persen karena akan berdampak besar bagi kenaikan harga kebutuhan hidup lain.
Sunarno mengatakan aksi ini akan dilanjutkan ke Balai Kota DKI Jakarta untuk bertemu dengan Plt Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). "Setelah ini kami akan mengadakan aksi lanjutan pada 6 dan 12 November ke Balai Kota DKI Jakarta dan DPR-RI," katanya.
Merdeka
Salah Satu Orang Terkaya di Jepang, Shoji Uehara Sang Raja Farmasi Jepang, Ternyata Memilih Hidup Sederhana, Bahkan Lebih Sederhana Dari Buruh.
Meski kaya raya, Shoji Uehara justru menghindari hingar bingar. Pemegang kepimpinan tertinggi dari Taisho Pharmaceutical, perusahaan farmasi terbesar di Jepang, ini menampilkan diri layaknya eksekutif pada umumnya. Ia tinggal di rumah yang sederhana, berangkat kerja jalan kaki, dan makan siang dengan biskuit dan teh di mejanya. Akan tetapi majalah Forbes memperkirakan kekayaannya hampir sebesar 1 miliar dolar Amerika atau 10 Trilliun Rupiah.
Hidup sederhana
Di dalam perusahaan, ia dikenal sebagai GHQ atau "Goes Home Quickly" karena sepulang kerja, ia selalu langsung pulang ke rumah, bukannya minum-minum sebagaimana mayoritas eksekutif Jepang setelah bekerja. Dia tidak minum atau merokok, sebagian karena masalah kesehatan. Sedangkan kesamaan antara Uehara dengan pekerja kantoran pada umumnya adalah, ia selalu menyerahkan amplop gajinya kepada sang istri setiap bulan. Ia hanya akan menghabiskan sekitar $70 per bulan dan $70 tambahan untuk membeli buku. Total pengeluaran tidak sampai 2 juta rupiah per bulan ini tentunya bahkan lebih murah dari tuntutan hidup buruh Indonesia.
Gaya hidup sederhana Uehara mencerminkan kehidupan pedagang-pedagang di era samurai abad ke-17. Kala itu, pedagang menempati peringkat terbawah di tangga sosial Konfusius. Mereka menampilkan kekayaan mereka dengan cara yang hampir tidak kentara, seperti melapisi bagian dalam mantel mereka dengan bordir flamboyan.
"Saya tidak punya keterikatan dengan uang," kata Uehara. Ia sadar tentang bagaimana dia mendapatkan uang. "Karena saya merasa tidak mendapatkannya dengan kemampuan saya sendiri."
Memang, perusahaannya saat ini adalah hasil kerja dari sang bapak angkat, Shokichi Uehara. Pada masa perang, di tahun 1920-an, Shokichi Uehara memulai Taisho Pharmaceutical yang bergerak di pasar obat nonresep Jepang. Sang bapak memiliki filosofi bahwa "Bisnis adalah perang". Memang, Uehara senior adalah seorang pengusaha yang berani dan keras. Sedangkan Shoji kebalikannya. Ia adalah orang yang sangat berhati-hati. Maka, bayangan panjang bapaknya dan kegemaran Shoji untuk meremehkan dirinya sendiri membuat Shoji Uehara seolah malprestasi. Padahal tidak. "Pemimpin generasi kedua cenderung menderita karena sulitnya mengikuti bayangan generasi pertama. Tapi Shoji Uehara mampu mempertahankan pertumbuhan," kata Juichi Matsui, editor surat kabar Pharmaceutical Daily.
taisho Bos Ini Punya 10 Trilliun Rupiah Namun Hidup Lebih Sederhana Dari Buruh studentpreneur entrepreneur startup
Bos Ini Punya 10 Trilliun Rupiah Namun Hidup Lebih Sederhana Dari Buruh [Studentpreneur]
Fokus untuk mendidik generasi berikutnya
Karena kebijakan pajak Jepang, Shoji tidak bisa serta merta mewariskan kekayaan ke anak atau cucunya. Hal terbaik yang bisa ia lakukan, katanya, adalah memberikan pendidikan yang baik bagi ahli warisnya. Setelah itu, mereka tidak memiliki pilihan kecuali mengumpulkan uang sendiri. Maka, begitu lengser, Shoji Uehara mengalihkan operasi sehari-hari mereka ke anak angkat, sekaligus menantunya, Akira Uehara. Akira saat ini tengah menggenjot rencana perusahaan untuk fokus di pasar masyarakat Jepang yang semakin menua, sekaligus melebarkan sayap mereka ke area-area Asia Tenggara, salah satunya Indonesia. Maka kelak, di AFTA, Anda akan bersaing langsung dengan dinasti Uehara.
Terjun di filantropi
Setelah lengser dari tampuk kepemimpinan, Shoji Uehara mencatatkan diri sebagai salah seorang dermawan Jepang. Forbes mencatat namanya bersama dengan pahlawan filantropi seperti James Riady, dan Putera Sampoerna. Sejak masih aktif bekerja, Shoji Uehara memang terkenal dermawan. Ia kerap membawa cadangan uang 1,000 dolar Amerika di dompetnya, hanya untuk jaga-jaga jika sewaktu-waktu ia harus beramal. "Karena masyarakat menganggap bahwa Uehara adalah orang kaya," katanya, "Maka saya harus memberikan sesuatu".
Studentpreneur.co
sumber
[Photo Credit: Dick]
Dikutip dari: http://adf.ly/th5h4


