JAKARTA, KOMPAS.com — PT Pertamina mengaku rugi sebesar Rp 2,81 triliun pada semester pertama tahun ini lantaran harga elpiji nonsubsidi yang dijual perseroan lebih rendah dari harga pasar.
"Dari tiga pemasok lainnya sebesar Rp 15.000 per kg, sedangkan harga dari Pertamina hanya Rp 6.500 per kg. Sehingga ada selisih sekitar Rp 7.000–Rp 8.000. Selama ini kerugian ditanggung oleh Pertamina," kata Vice President Corporate Communication Ali Mundakir, Rabu (13/8/2014).
Ali menyatakan, setiap tahun Pertamina harus menanggung kerugian penjualan elpiji 12 kg sebesar Rp 5 triliun. Padahal, konsumen elpiji 12 kg adalah masyarakat kelas menengah. Karena itu, perseroan akan melakukan aksi korporasi, yakni dengan menaikkan harga elpiji nonsubsidi 12 kilogram pada pertengahan Agustus 2014.
Dia mengatakan, rencana kenaikan elpiji 12 kg sesuai dengan roadmap setiap enam bulan sekali, mulai dari awal tahun ini hingga 2016. "Kenaikan dilakukan hingga elpiji 12 kg mencapai keekonomian. Kenaikan harga elpiji di kisaran Rp 1.000-Rp 2.000 per kg," kata Ali.
Sebagai informasi, harga elpiji 12 kg belum pernah naik sejak 2009. Pemerintah selalu melarang Pertamina untuk menaikkan harga elpiji 12 kg dengan alasan ekonomis. Meskipun hanya 15 persen dari total konsumen gas Pertamina yang mengonsumsi barang ini, tetapi rugi jualnya sangat membebani Pertamina.
SUMBER
========================================================
heran Gas 12KG kan gak di Subsidi sama Pemerintah tapi Nyatanya Rugi Terus lha piye iki jan


Dikutip dari: http://adf.ly/r6bZJ


