

KESEMRAUTAN suasana di Pasar Jemba tan Lima, Tambora, Jakarta Barat sema kin menjadi-jadi. Puluhan kios pedagang di bagian basement banyak yang tidak difungsikan. Padahal ratusan pedagang terlihat berjualan di pinggiran pasar. Akibatnya ruas Jalan KH Mas Mansyur Raya, depan pasar tersebut tak terlepas dari kemacetan.
Akses masuk-keluar pasar pun terganggu. Alhasil pengunjung pasar semakin berkurang. Sehingga pedagang sayur mayur di basement gedung dalam kondisi paceklik. Kondisi tersebut terjadi sejak pasar direnovasi pada tahun 2.000 silam. Yakni sejak jabatan walikota dipegang oleh Burhanuddin, Fatahillah, hingga kini Anas Effendi.
Ditengarai, polemik kesemerawutan pedagang pasar sayur-mayur di lokasi itu berunsur premanisme. Para oknum �bang jago� menarik keuntungan dari pedagang yang memilih berjualan di luar gedung pasar. �Pedagang di sini jadi terbagi 3 kubu. Satu di basement, satu lagi di pelataran parkir depan, dan satu lagi di pinggir jalan raya,� kata Jasran (55), salah satu pedagang sayur yang bercokol di pelataran parkir ketika ditemui INDOPOS, kemarin (2/5) siang.
Pedagang tomat, terong dan timun itu juga menyayangkan pengelolaan pasar yang membuat sebagian kios di basement gedung tidak terpakai. �Fasilitasnya kurang, pembeli juga lebih milih belanja di luar,� katanya. Sebenarnya, kata Jasran, tak menjadi masalah antara pedagang di pelataran parkir dengan pedagang basement.
Menurutnya, masalah itu bersumber dari pedagang di pinggir jalan. Selain jenis sayuran yang jual tidak teratur, keberadaannya menyulitkan pengunjung yang datang. Jasran menambahkan, pembiaran kondisi itu terjadi sejak renovasi gedung pasar. Satu per satu pedagang berdatangan, mengambil tempat sesukanya.
�Kita sepakat jenis sayurannya berbeda, kalau di basement itu khusus jual kol, cabe dan kentang. Disini tuh rempah, terong, timun dan sayuran,� terangnya. Berdasarkan pantauan INDOPOS, ruang basement pasar tersebut masih tampak lega dan sepi pengunjung. Di bagian belakang, sejumlah kios berpintu rolling door yang tidak digunakan tampak rusak.
Tak sedikit di antaranya yang menjadi tempat tidur-tiduran pekerja pasar. Didin (34) dan Ajip (53) pedagang kol di basement pasar tersebut menyesalkan, akibat membludaknya pedagang di luar pasar membuat penjualannya menu run drastis. Padahal, mereka kapasitas ruang di basement masih cukup untuk menampung ratusan pedagang di luar pasar.
�Tadinya di sini tuh dalam sehari kita berani pasok paling sedikit 5 ton, tapi sejak puluhan tahun ini paling berani 2 ton,� ucap Didin. Camat Tambora Yunus Burhan juga berkata demikian. Ia menyesalkan, upaya penataan pasar yang selalu kandas di tengah jalan. Ia sendiri mengaku bingung, berulangkali ditertibkan pedagang kembali muncul di pinggir jalan.
Sejauh ini, kata Yunus, banyaknya pedagang yang memilih berjualan di luar karena fasilitas pasar yang kurang memadai dan perlu perbaikan. Terkait penataan itu pun sudah didorong ke pihak pengelola PD. Pasar Jaya berulang kali. Ia meminta agar peningkatan fasilitas di pasar tersebut segera dikerjakan.
�Saya ju ga gak habis pikir, sepertinya mereka ada yang mengakomodir,� keluh dia. Di tempat terpisah, Humas PD Pasar Jaya Agus Lamun mengaku, belum mengetahui kondisi semraut tersebut. Termasuk kondisi kios yang tidak difungsikan. Namun terkait perbaikan fasilitas, pihaknya lebih memprioritaskan peremajaan atau revitalisasi pasar yang usianya sudah tua atau di atas 20 tahunan. �Untuk pasar Jembatan Lima ini akan segera kita cek ke lokasi, kami pasti akan menindak lanjuti,� tukasnya. (asp)
Sumber : indopos.co.id


