
"Intensitas serta ketinggian letusan abunya sudah jauh menurun dibandingkan dua hari lalu," kata pengamat Gunung Api di Pos Pengamatan Gunung Slamet, Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, Sukedi. Dari pengamatan sejak pukul 06.00 sampai 12.00 WIB.
Sukedi mengatakan, Gunung Slamet meletuskan abu sebanyak tiga kali. Tiga kali letusan abu itu terbawa angin ke arah barat. Seismograf di Pos Pengamatan Gunung Slamet juga masih mencatat gempa letusan dan embusan. Namun, intensitas aktivitas vulkanis gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa itu sudah jauh berkurang dibandingkan saat masih berstatus siaga. "Lontaran lava pijar dan sinar api juga sudah tidak terlihat sejak Senin," ujar Sukedi.
Kendati Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan Gunung Slamet sudah tidak dalam kondisi gawat, warga tetap dilarang beraktivitas di kawasan beradius dua kilometer dari puncak. Sebelum gunung berketinggian 3.428 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu kembali berstatus normal, seluruh jalur pendakian masih ditutup.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tegal, Tedjo Kisworo, mengatakan penurunan status Gunung Slamet belum diikuti dengan pembongkaran tiga posko penanggulangan bencana. "Tiga posko di lapangan Desa Tuwel, Suniarsih, dan Batumirah di Kecamatan Bumijawa masih tetap dijaga sampai sekarang," kata Tedjo.
Ketiga posko yang disiapkan untuk menampung pengungsi itu didirikan sejak status Gunung Slamet dinaikkan dari waspada menjadi siaga pada 30 April lalu. Tedjo berujar, tiga posko itu belum dibongkar karena pihaknya masih mengantisipasi jika sewaktu-waktu status Gunung Slamet akan naik lagi menjadi siaga.
Di Kabupaten Brebes, penurunan status Gunung Slamet diikuti dengan penarikan sebagian anggota SAR yang sudah dua pekan berjaga di pos pemantauan Dawuhan, Kecamatan Sirampog. "Saat Gunung Slamet masih berstatus siaga, tiap satu shift terdiri dari lima anggota. Sekarang cukup dua anggota saja. Dalam satu hari ada tiga shift," kata Komandan SAR Brebes, Adhe Dhani.
Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas) wilayah Jawa Tengah dan DIY, Agus Haryono, juga telah menarik sepuluh anggotanya dari pos pemantauan di Desa Gambuhan, Pemalang. "Mereka berjaga di Gambuhan sejak Gunung Slamet berstatus siaga," kata Agus. Jika status Gunung Slamet kembali dinaikkan menjadi siaga, Agus akan kembali mengerahkan sepuluh anggotanya.
Warga Desa Jurangmangu, Kecamatan Pulosari, Pemalang, Muslih, 30 tahun, mengaku sejak pekan lalu sudah tidak mendengar suara dentuman. "Dentuman yang menggelegar itu hanya terdengar di hari-hari awal Gunung Slamet berstatus siaga," kata warga di desa yang berjarak sekitar enam kilometer dari puncak Gunung Slamet itu.
SUMBER


