Please disable ad-blocker to view this page



SITUS BERITA TERBARU

Inggris dan Amerika Banjir Karena Indonesia

Thursday, February 13, 2014

Gb. Pangeran Charles (tengah) dibantu petugas kepolisian saat turun dari kapal ketika akan mengunjungi korban banjir di Muchelney, Inggris (4/2). REUTERS/Jack Hill/The Times/Pool

London - Badan meteorologi Inggris menyebut badai kencang serta banjir yang menghantam Amerika Utara dan Inggris terjadi karena hujan deras yang disebabkan tingginya temperatur pesisir di Indonesia dan Pasifik Barat yang berpindah melalui arus air.

Hujan dengan intensitas tinggi yang terus terjadi--dengan peningkatan 50 persen dibanding kondisi normal pada Desember dan Januari silam--memicu angin barat yang menarik badai ke Inggris dari Pasifik Utara. "Cuaca ekstrem di dua sisi Atlantik terkait dengan gangguan arus sepanjang Samudera Pasifik dan Amerika Utara," kata Badan Meteorologi, Ekologi dan Hidrologi Inggris dalam sebuah laporan, seperti dikutip Reuters, Rabu, 12 Februari 2014. (Baca juga: Banjir Bandang Rendam Puluhan Rumah di NTT)

"Ada kaitan kuat antara badai di Inggris sepanjang Desember hingga Januari serta gangguan arus di Amerika Utara dan Pasifik Utara," ujar kantor itu.

Penyimpangan arus ini serupa dengan La Nina, fase dingin dari siklus El Nino Southern Oscillation (ENSO). Dalam siklus tersebut, suhu permukaan laut di wilayah Pasifik yang berada di Peru lebih dingin dari kondisi normal. Suhu permukaan laut sepanjang ekuator Pasifik mendekati normal. Meski demikian, tidak ada pertanda akan datangnya La Nina maupun El Nino.

Namun, yang menjadi masalah adalah hujan deras di Indonesia dan wilayah tropis barat Pasifik yang datang bersama La Nina. Hujan yang melanda Indonesia menarik badai dari Pasifik Utara dan membelokkan arus udara. (Lihat juga: Inggris Banjir, Cameron Batal ke Palestina)

Tahun ini, arus udara Pasifik Utara dibelokkan ke utara lebih jauh dari biasanya. Kondisi ini berakibat pada meluncurnya cuaca dingin dari kutub melintasi Kanada dan Amerika Serikat, termasuk Texas. Pertemuan udara dingin kutub dan suhu hangat di Atlantik memperkuat arus udara di Atlantik dan menyebabkan serangkaian badai hebat.

Arus udara di Atlantik utara 30 persen lebih kuat dari yang biasanya terjadi pada Desember dan Januari silam. Serangkaian badai akhirnya menyapu Inggris pada 4-5 Desember 2013, 24 Desember 2013, 5-6 Januari 2014, 5 Februari 2014 serta 7 dan 8 Februari 2014. Badai yang melanda pada 5 Januari 2014 sangat besar hingga menyapu seluruh Atlantik Utara.

Seluruh arus udara yang begitu kuat sepanjang Atlantik mendatangkan badai di selatan Inggris. (Berita lain: Inggris Keluarkan 14 Peringatan Banjir)

Hujan turun lebih dari 37 sentimeter atau 15 inci sepanjang wilayah selatan, tengah dan tenggara Inggris pada Desember dan Januari lalu. Kondisi ini merupakan yang terparah sejak tahun 1910. Badan meteorologi setempat menyatakan Inggris dan Wales mengalami musim salju paling basah dalam 248 tahun terakhir.

Cuaca di Inggris sangat beragam. Negara ini terbiasa mengalami badai yang berkelompok. Namun, badai yang terjadi belakangan sangat tidak wajar. Inggris pun dihantam empat jenis banjir.

Pertama, banjir pesisir. Badai yang massif menciptakan gelombang dalam jangka panjang dan mendorong arus ke pesisir di barat daya Irlandia dan selatan Inggris. Pada Februari ini, badai menghancurkan infrastruktur di pesisir, termasuk memutus jalur kereta utama yang menghubungkan London dan Semenanjung Cornish di barat daya. (Artikel terkait: Badai dan Gelombang Besar Hantam Inggris)

Kedua, banjir bandang. Badai dan curah hujan dengan intensitas tinggi pada awal Desember memperparah banjir, terutama di barat daya Inggris. Drainase dan sungai tidak mampu menampung air.

Selanjutnya, banjir di sungai dan aliran air tanah. Level air tanah berada di bawah rata-rata pada awal musim salju. Namun, hujan lebat telah membuat air tanah membeludak dalam tiga tahun terakhir.

Lapisan tanah bercampur air sekarang memenuhi kawasan tersebut. Di dataran Salibury dekat pesisir selarang, level air pada wilayah berkapur naik hingga 20 meter dalam dua pekan pada akhir Januari silam. Dengan curah hujan lebat yang berlanjut, banjir pun menyebar sepanjang lembah sungai dan naik ke daratan. Karena permukaan tanah sudah jenuh, hujan dengan intensitas sedang pun bisa menyebabkan banjir parah. Inggris selatan sangat rawan mengalami banjir bandang, banjir sungai serta banjir aliran air tanah dalam beberapa bulan.

"Hingga sekarang, tidak ada jawaban pasti mengenai pengaruh perubahan iklim terhadap badai, hujan dan banjir," kata badan meteorologi setempat. Menurut mereka, kondisi ini merupakan bagian dari cuaca dan iklim di Inggris yang bervariasi. Dengan kata lain, sulit memisahkan tanda perubahan iklim dari kondisi normalnya.

Sejumlah badai di sepanjang Atlantik tengah dan menghantam Inggris tidak pernah mengalami peningkatan sejak 1871. Namun yang terjadi belakangan ini memperlihatkan peningkatan badai.

Badai-badai juga kemungkinan membawa lebih banyak hujan. Ada situasi yang disebut sebagai hujan deras harian. Situasi ini menjadi lumrah belakangan.

Sumber




Gb. Jalur rel kereta api track terlihat bengkok dan tergantung setelah badai menghantam dan merubuhkan dinding tanggul laut di Dawlish, Inggris (5/2). Gelombang tinggi dan angin kencang yang menerjang kawasan kota Devonshire ini menyebabkan kekacauan dengan rusaknya jalan dan jaringan rel kereta serta perumahan. (AP Photo/PA, Ben Birchall)


Gb. Ombak besar menghantam rel kereta api di kawasan Dawlish, Inggris (5/2). Selain menghancurkan jalur rel kereta api, ombak ini juga merusak dermaga tepi laut yang terkenal dan ribuan rumah tidak dialiri listrik. (AP Photo/PA, Ben Birchall)


Gb. Petugas berkumpul di dekat lubang besar yang muncul di jalanan dekat jalur kereta api yang terputus karena gempuran ombak di Dawlish, England (5/2). (AP Photo/PA, Ben Birchall)


Gb. Petugas berjaga di atas rel kereta yang terputus karena gempuran ombak di Dawlish, England (5/2). (AP Photo/PA, Ben Birchall)


Gb. Ombak besar menghantam bibir tanggul di samping mobil yang mogok akibatb jalanan banjir di Dawlish, Inggris (5/2). (AP Photo/PA, Ben Birchall)
SHARE THIS POST:
FB Share Twitter Share

Blog Archive