
Menurut dia, pelemahan rupiah dipicu oleh sentimen negatif terhadap mata uang regional yang memburuk karena terdevalusinya mata uang Argentina, Peso. "Devaluasi Peso membuat semua mata uang regional memburuk. Ini membuat kekhawatiran terhadap semua mata uang lain di emerging markets. Tidak hanya Asia tapi juga Amerika Latin. Semua melemah," katanya.
Lana mengatakan pelemahan rupiah esok dipicu hanya oleh faktor eksternal. Faktor internal, kata dia, belum mempengaruhi karena dampak inflasi yang disebabkan oleh banjir yang terjadi dalam dua pekan terakhir baru akan terasa pada awal bulan depan. "Respon dari terjadinya inflasi belum terlihat. Nanti kalau sudah terasa dampak inflasinya bisa melemah lagi," katanya.
Pelemahan rupiah, kata dia, dalam sepekan ini sebenarnya bisa melemah lebih rendah dari Rp 12.200 tapi Bank Indonesia melakukan intervensi sehingga kisaran level terendah ditahan pada level tersebut. Pada awal bulan atau ketika dampak banjir sudah mulai terasa Lana memperkirakan nilai tukar rupiah bisa lebih rendah dari Rp 12.200,-.
Pada Jumat lalu, penguatan mata uang yen berhasil menahan pelemahan nilai tukar rupiah yang dipicu oleh data ekonomi Amerika yang bergerak negatif. Jumat lalu, di pasar mata uang nilai tukar rupiah ditutup melemah 16 poin atau 0,13 persen ke level 12.181.
SUMBER


