sumber
Ranjau paku adalah musuh utama bagi para pengendara, terutama di kota besar seperti Jakarta. Banyak orang kerepotan karena hal itu. Ternyata hal ini juga berdampak pada umur ban yang kita gunakan. Benarkah?
Ada ratusan titik ranjau paku di Jakarta yang telah membuat resah pengendara sekian lama. Berbagai cara telah diusahakan oleh petugas atau komunitas antiranjau paku di jalan raya, tapi tetap saja, ranjau paku masih menjadi momok.
Marketing Communication Manager Planet Ban Bagus Ardian mengatakan kalau ban hanya boleh terkena paku maksimal sebanyak 5 kali saja. Hal ini untuk menjaga keamanan ban dan keselamatan pengendara itu sendiri.
"Untuk yang masih pakai ban dalam, perhatikan, sudah berapa kali terkena paku. Berapa lubang yang ditambal di ban dalam itu. Karena ban dalam hanya boleh kena 3 lubang saja, lebih dari itu safety-nya sudah meragukan. Karena itu dianjurkan kalau sudah 3 lubang, lebih baik ganti ban dalam," jelasnya di markas Planet Ban di Depok, Jawa Barat.
Dia lalu mengatakan kalau ada baiknya kalau untuk para pemotor di kota besar yang rawan ranjau paku memilih ban tubeless saja. Karena selain tidak merepotkan ketika terkena paku, uang yang dikeluarkan antara membeli ban tubetype dan tubeless tidak terlalu beda.
"Hitung saja sendiri, kalau tambal ban di pinggir jalan biayanya Rp 20-40 ribu per lubang, kalikan itu dengan 3 lubang. Bisa Rp 60-120 ribu. Kalau dari awal tidak beli tubetype dan memilih tubeless kan sebenarnya sama saja biayanya," ujarnya.
Itu bila kita berbicara mengenai ban dalam. Untuk ban luar sendiri, lubang karena paku diakuinya juga turut serta membantu mengurangi umur pakai ban.
"Karena ban dalam baik tubeless maupun tubetype hanya boleh kena paku 3-5 lubang. Maksimal 5, lebih dari itu tidak direkomendasikan. Itu dengan catatan tidak bocor di samping ya," ujarnya.
Di luar masalah ranjau paku, kalau pun tidak terkena paku, motor yang digunakan harian itu umur bannya biasanya antara 1-1,5 tahun untuk ban depan dan 10-12 bulan untuk ban belakang.
Itu hitungan untuk ban tubeless merek lokal. Kalau merek luar bisa 3 bulan lebih lama. Sedangkan untuk ban yang ada ban dalamnya, selisih 1 bulan lebih sebentar dari ban tubeless.
Ranjau paku adalah musuh utama bagi para pengendara, terutama di kota besar seperti Jakarta. Banyak orang kerepotan karena hal itu. Ternyata hal ini juga berdampak pada umur ban yang kita gunakan. Benarkah?
Ada ratusan titik ranjau paku di Jakarta yang telah membuat resah pengendara sekian lama. Berbagai cara telah diusahakan oleh petugas atau komunitas antiranjau paku di jalan raya, tapi tetap saja, ranjau paku masih menjadi momok.
Marketing Communication Manager Planet Ban Bagus Ardian mengatakan kalau ban hanya boleh terkena paku maksimal sebanyak 5 kali saja. Hal ini untuk menjaga keamanan ban dan keselamatan pengendara itu sendiri.
"Untuk yang masih pakai ban dalam, perhatikan, sudah berapa kali terkena paku. Berapa lubang yang ditambal di ban dalam itu. Karena ban dalam hanya boleh kena 3 lubang saja, lebih dari itu safety-nya sudah meragukan. Karena itu dianjurkan kalau sudah 3 lubang, lebih baik ganti ban dalam," jelasnya di markas Planet Ban di Depok, Jawa Barat.
Dia lalu mengatakan kalau ada baiknya kalau untuk para pemotor di kota besar yang rawan ranjau paku memilih ban tubeless saja. Karena selain tidak merepotkan ketika terkena paku, uang yang dikeluarkan antara membeli ban tubetype dan tubeless tidak terlalu beda.
"Hitung saja sendiri, kalau tambal ban di pinggir jalan biayanya Rp 20-40 ribu per lubang, kalikan itu dengan 3 lubang. Bisa Rp 60-120 ribu. Kalau dari awal tidak beli tubetype dan memilih tubeless kan sebenarnya sama saja biayanya," ujarnya.
Itu bila kita berbicara mengenai ban dalam. Untuk ban luar sendiri, lubang karena paku diakuinya juga turut serta membantu mengurangi umur pakai ban.
"Karena ban dalam baik tubeless maupun tubetype hanya boleh kena paku 3-5 lubang. Maksimal 5, lebih dari itu tidak direkomendasikan. Itu dengan catatan tidak bocor di samping ya," ujarnya.
Di luar masalah ranjau paku, kalau pun tidak terkena paku, motor yang digunakan harian itu umur bannya biasanya antara 1-1,5 tahun untuk ban depan dan 10-12 bulan untuk ban belakang.
Itu hitungan untuk ban tubeless merek lokal. Kalau merek luar bisa 3 bulan lebih lama. Sedangkan untuk ban yang ada ban dalamnya, selisih 1 bulan lebih sebentar dari ban tubeless.
Berikut lokasi rawan ranjau paku di Jakarta:
1. Jalan Gatot Subroto hingga ke perempatan lampu merah Kuningan dan arah sebaliknya.
2. Jalan Majapahit (Dari Tanah Abang menuju Harmoni).
3. Jalan Gatot Subroto mengarah ke Polda sampai Semanggi.
4. Jalan Letjen Soeprapto mulai dari Fly Over Galur hingga Terowongan Senen
1. Jalan TB. Simatupang (Terutama dekat Fly Over Lenteng Agung dan ke arah Pasar Minggu).
2. Dari Menara Saidah ke arah perempatan Kuningan.
3. Jalan MT. Haryono (Terutama perempatan Patung Pancoran dan Fly Over Pancoran)
1. Jalan S. Parman dari Rumah Sakit Harapan Kita arah lampu merah Slipi (Termasuk Fly Over Slipi).
2. Dari lampu merah Slipi ke arah Tomang.
3. Kawasan Roxy
1. Fly Over Permata Hijau ke arah Pondok Indah (Depan Masjid Istiqomah).
2. Dari William Mobil ke arah lampu merah Kostrad.
3. Jalan Prof. Satrio (Dari Mal Ambassador ke arah Jalan Casablanca).
4. Terowongan Casablanca (ke arah Mal Ambassador)



