Beberapa hari yang lalu, Chatib Basri (Menteri Keuangan RI) mengeluarkan statment yang seharusnya meresahkan untuk rakyat Indonesia. Pasalnya, ia mengatakan Indonesia akan jadi permanen importir dalam minyak pada tahun 2020. Alasannya, sederhana, produksi minyak kita terbatas dan tak kunjung meningkat.
Maklum saat ini, Indonesia memang hanya mampu memproduksi BBM 800 ribu barel per hari sementara kebutuhan BBM kita mencapai 2 juta barel per hari.
Akibatnya, Indonesia DI-SETARAKAN dengan negara-negara yang tidak punya Sumber Daya Alam. Indonesia yang (katanya) memiliki Sumber Daya Melimpah disetarakan negara yang tidak punya SDA. Ironis!
Mau sampai kapan Indonesia terus-menerus impor minyak karena produksi kita yang tak kunjung naik. Boro-boro naik untuk stagnan (produski tetap) saja sulit. Yang ada malah terus turun
Akibat impor BBM. Negara kita harus merugi 140 TRILIYUN dalam 4 tahun terakhir atau 35 TRILIYUN per tahun. Indonesia menjadi permanen importir minyak merupakan mimpi buruk
Kita masih ada waktu 6 tahun sebelum tahun 2020. Kita masih ada waktu 6 tahun sebelum kita benar-benar menjadi importir minyak permanen alias selama-lamanya alias abadi dsb Tentu kita tidak mau!
Maklum saat ini, Indonesia memang hanya mampu memproduksi BBM 800 ribu barel per hari sementara kebutuhan BBM kita mencapai 2 juta barel per hari.
Akibatnya, Indonesia DI-SETARAKAN dengan negara-negara yang tidak punya Sumber Daya Alam. Indonesia yang (katanya) memiliki Sumber Daya Melimpah disetarakan negara yang tidak punya SDA. Ironis!
Mau sampai kapan Indonesia terus-menerus impor minyak karena produksi kita yang tak kunjung naik. Boro-boro naik untuk stagnan (produski tetap) saja sulit. Yang ada malah terus turun
Akibat impor BBM. Negara kita harus merugi 140 TRILIYUN dalam 4 tahun terakhir atau 35 TRILIYUN per tahun. Indonesia menjadi permanen importir minyak merupakan mimpi buruk
Kita masih ada waktu 6 tahun sebelum tahun 2020. Kita masih ada waktu 6 tahun sebelum kita benar-benar menjadi importir minyak permanen alias selama-lamanya alias abadi dsb Tentu kita tidak mau!
Kita harus bergerak! kita harus kerja..kerja..kerja agar semua mimpi buruk itu tidak terjadi. Kita harus kerja..kerja..kerja untuk meningkatkan produksi minyak. Kita harus bangun kilang minyak agar bisa meningkatkan produksi minyak
Dahlan Iskan mengatakan Untuk membangun satu kilang minyak yang lengkap sebesar 300.000 barel per hari, diperlukan sekitar USD 7 Milia atau sekitar Rp 84 Triliun dengan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar saat ini
Menurut Dahlan Iskan, bisnis kilang minyak memang merupakan bisnis yang modalnya luar biasa besar tapi dengan keuntungan yang amat tipis.
Para investor kilang menginginkan insentive berupa pembebasan pajak dan insentive lainnya. Memang kalau insentive itu diberikan pemerintah akan kehilangan potensi pemasukan sebesar Rp 14 triliun. Namun gara-gara kita �sayang� terhadap nilai Rp 14 triliun tersebut, kita terus-menerus gigit jari. Dahlan Iskan mengatakan andai 4 tahun lalu kita sudah bangun kilang minyak, Mungkin saat ini Indonesia menghemat uang Rp 140 triliun. Dahlan Iskan menyayangkan sikap Indonesia yang inginnya menghemat Rp 14 Triliun tapi justru kita kehilangan Rp 140 Triliun dalam 4 Tahun.
Dahlan Iskan memang tahu betul permasalahn Energi di Negeri ini. 2 tahun menjadi Dirut PLN Dahlan Iskan belajar energi secara all out.
Tidak hanya kulit-kulitnya tapi sampai ke persoalan yang sangat mendasar dan sangat dalam ternasuk impor BBM ini. Persoalan impor BBM ini serius dan membangun kilang minyak merupakan salah satu solusinya
Kilang minyak itu wajib agar Indonesia tidak menjadi importir minyak permanen. Dahlan Iskan siap bangun!
Sekian
Firdaus


