Please disable ad-blocker to view this page



SITUS BERITA TERBARU

Beberapa Sinyal Dugaan SBY Jajaki "Jalan Damai" dengan Megawati

Monday, April 28, 2014
Beberapa Sinyal Dugaan SBY Jajaki "Jalan Damai" dengan Megawati


Putri Soekarno, Megawati Soekarnoputri dan Wakil Presiden Boediono hadir dalam pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Soekarno dan Muhammad Hatta yang diberikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara, Jakarta, Rabu (7/11/2012). Presiden dan Wakil Presiden pertama Republik Indonesia tersebut dinilai berperan penting dalam perjuangan kemerdekaan dan menggagas serta menciptakan landasan konsititusional Republik Indonesia yakni Undang-Undang Dasar 1945.

TRIBUNNEWS, JAKARTA - Ketua Umum DPP Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono kembali menyinggung hubungannya dengan Ketua Umum DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri.

Hubungan keduanya memang dingin sejak 10 tahun terakhir. Upaya SBY untuk memperbaiki hubungannya dengan Mega dilakukan dengan berbagai cara, meski keduanya belum bertemu secara langsung.

Sejumlah sinyal hingga pernyataan dilontarkan SBY untuk menarik simpati Mega. Berikut lima hal yag disinyalir upaya SBY untuk menjajaki jalan damai dengan Megawati:

1. Pertemuan orang dekat Mega dengan SBY di Istana Negara

Pada Rabu (23/4/2014), Presiden SBY melakukan pertemuan tertutup dengan pendiri Founding Fathers House (FFH) Suko Sudarso dan Sekretaris Jenderal FFH Syahrial Nasution di Istana Negara. Pertemuan dilakukan pada pukul 16.00 selama 75 menit.

Suko adalah satu di antara tokoh senior GMNI dan juga pendukung kuat Bung Karno pada masa peralihan Orde Lama ke Orde Baru. Selain itu, Suko adalah tokoh belakang layar yang mempertemukan Megawati dengan Susilo Bambang Yudhoyono.

Peneliti FFH Dian Permata mengungkapkan, dalam pertemuan itu SBY mengungkapkan kepada Suko dan Syahrial bahwa dirinya selalu membuka diri untuk kembali berkomunikasi dengan Megawati. SBY pun mengenang pengalamannya saat menjadi Kassospol ABRI.

Saat terjadi perpecahan di tubuh PDI pada 1997, SBY yang masih berpangkat letnan jenderal dikenalkan oleh mantan Wakil Ketua Balitbang PDI-P Suko Sudarso dan Heru Lelono kepada Megawati. Pertemuan berlangsung di salah satu tempat milik Mabes ABRI, Salemba, Jakarta Pusat. Itulah awal kebersamaan SBY dan Mega.

Ketika Megawati menjabat Presiden, SBY diangkat menjadi Menkopolsoskam kabinet Megawati-Hamzah Haz. Namun, hubungan ini menjadi kurang baik ketika Suko mengantarkan SBY maju sebagai calon presiden 2004.

Juru bicara Partai Demokrat, Ruhut Sitompul, juga menyiratkan sudah ada pertemuan "orang dekat" Megawati dengan SBY. Tanpa menyebutkan identitas orang itu, Ruhut optimistis hubungan Mega dan SBY semakin cair.

"Karena orang dekat ibu (Mega) sudah berkomunikasi dengan kami (Demokrat)," katanya

2. Pernyataan SBY di Youtube

Tak hanya memberikan sinyal untuk "rujuk" dengan Megawati, SBY, dalam sebuah wawancara yang diunggah ke situs Youtube, mengungkapkan keinginannya berkomunikasi dengan Megawati. Dia berharap, komunikasi dengan Megawati bisa terjadi seperti halnya komunikasi yang ia lakukan dengan tokoh-tokoh partai politik lain.

"Saya ini ingin berkomunikasi dengan siapa pun, termasuk dengan Ibu Megawati sepanjang komunikasi itu berlangsung dengan baik, berangkat dari niat yang baik pula, dan semuanya tentu untuk kepentingan bangsa dan negara. Terlebih ketika kita sedang memikirkan siapa pemimpin bangsa yang akan datang. Komunikasi seperti itu diperlukan," kata dia.

Video itu diunggah pada Jumat (25/4/2014). SBY mengatakan, sebenarnya dalam satu minggu ini dirinya telah menjalin komunikasi dengan banyak pihak, apakah pimpinan partai atau tokoh-tokoh nasional untuk saling bertukar pikiran.

"Oleh karena itulah, kalau memang Tuhan menakdirkan saya bisa berkomunikasi dengan baik dengan Ibu Megawati sebagaimana komunikasi saya dengan yang lain, itu juga bisa menjadi jalan bagaimana bangsa dan negara ini bisa kita majukan bersama-sama," ujar SBY.

"Tidak harus menyatu dalam satu kubu, tapi paling tidak kita semua menyadari diperlukan kebersamaan dan kemitraan yang baik di antara elemen bangsa, di antara pemimpin bangsa untuk rakyat kita dan untuk masa depan bangsa dan negara kita," tambah SBY.

3. Keinginan internal Demokrat agar SBY-Mega "damai" menguat

Tak hanya SBY yang menginginkan berdamai dengan Megawati, sejumlah elite hingga pengurus daerah Partai Demokrat pun mendukung upaya rekonsiliasi kedua tokoh politik itu. Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Jhonny Allen Marbun mengakui berbagai pihak di partainya menginginkan sebaiknya SBY dan Megawati bisa bertemu. Di level bawah, sebenarnya politisi PD dan PDI-P sudah menginginkan hal tersebut terjadi.

"Tapi kami menunggu agar mereka bertemu agar tidak ada lagi terjadi polarisasi," ujarnya.

Baginya, rekonsiliasi dengan PDI-P merupakan hal terbaik bagi kepentingan bangsa dan negara. "Mudah-mudahan bisa terjadi sebelum Pilpres," harapnya.

Usulan agar Partai Demokrat bergabung dengan poros PDI-P juga muncul dalam pertemuan SBY dengan 33 Dewan Pimpinan Daerah Partai Demokrat Minggu (27/4/2014).

4. SBY dan baju kotak-kotak

Entah kebetulan atau tidak, SBY belakangan kerap menggunakan kemeja kotak-kotak. Seperti diketahui, kemeja kotak-kotak adalah satu di antara ciri khas gaya kampanye bakal calon presiden PDI-P, Joko Widodo, saat pemilihan kepala daerah DKI Jakarta pada 2012 lalu.

Setidaknya sudah dua kali SBY menggunakan kemeja kotak-kotak. Pertama adalah saat menyampaikan respons atas kekalahan Partai Demokrat berdasarkan hasil hitung cepat pada 9 April lalu. Saat itu, SBY mengucapkan selamat kepada PDI-P, Partai Golkar, dan Partai Gerindra yang mendapatkan perolehan suara di atas partainya.

SBY kembali memakai baju kotak-kotak saat menghadiri debat terakhir konvensi calon presiden Partai Demokrat di Hotel Sahid, Jakarta, pada Minggu. SBY ketika itu tidak menyinggung soal koalisi dan hanya berbicara soal nasib konvensi ke depan.

Pakar komunikasi politik dari Universitas Pelitan Harapan, Emrus, menuturkan, baju kotak-kotak yang belakangan kerap dipakai SBY bisa jadi merupakan simbol untuk memberikan sinyal kepada Mega agar mau membuka komunikasi kembali dengannya.

"Dari gejala dan fenomena tadi, bisa ditafsirkan sebagai suatu langkah rekonsiliasi. Saya pikir bahwa mereka akan terus melakukan langkah-langkah rekonsiliasi, wajar dalam politik. Tidak ada musuh yang abadi, yang abadi hanyalah kepentingan," kata Emrus saat dihubungi Minggu (27/4/2014) malam.

Menurut dia, Partai Demokrat dan PDI-P sebenarnya saling membutuhkan. Bagi Demokrat, ada kepentingan untuk berkoalisi lantaran suaranya tak mencukupi untuk mengajukan pasangan calon presiden dan wakil presiden sendiri. Sementara itu, bagi PDI-P, partai ini membutuhkan dukungan lebih di luar Partai Nasdem yang sudah menyatakan berkoalisi untuk menguatkan dukungan di parlemen.

"Kalau kepentingan mereka terwujud dengan rekonsiliasi ini, maka tidak tertutup kemungkinan mereka berkoalisi. Dalam politik, semuanya cair," ujar Emrus.

Sumber:
http://pontianak.tribunnews.com/2014...engan-megawati

Pertanda apakah ini?
Mencari perlindungan ama yg akan berkuasakah?
SHARE THIS POST:
FB Share Twitter Share

Blog Archive