
TEMPO.CO, Yogyakarta - Dodo Putra Bangsa, warga kampung Miliran, Kecamatan Umbul Harjo, Kota Yogyakarta resah. Air sumur yang telah menghidupinya dan keluarganya sejak lahir 37 tahun lalu, tiba-tiba asat (kering) Juli lalu. Itu baru kali pertama terjadi. Menurut Dodo, kekeringan itu terjadi usai Hotel Fave yang baru dibangun di daerah itu menyedot air tanah dalam untuk konsumsi kamar-kamar tamu hotelnya. Bukan menggunakan air PDAM. Air sumur di kampung yang menggunakan air tanah dangkal itu tandas.
Dengan air seujung ember yang tersisa, Dodo berkumur usai gosok gigi. Lalu dengan seember tanah, dia mengguyurkan ujung kepala hingga ujung kaki. Rambutnya yang gondrong itu pun kecokelatan penuh tanah. Aksi teatrikal berupa mandi dengan tanah itu sebagai protes terhadap ulah hotel-hotel penghisap air sumur warga sekitarnya. Ini sekaligus protes terhadap kebijakan wali kota yang memudahkan izin pembangunan hotel. Itulah salah satu adegan yang direkam jurnalis televisi yang dicuplik dalam film dokumenter berjudul Belakang Hotel itu.
Film itu digarap ramai-ramai dengan dana gugur gunung antara Watchdog, Combine, sejumlah jurnalis, juga Warga Berdaya yang menggerakkan #JogjaAsat. Proses pengambilan gambar hanya dilakukan sepekan lalu pada November di Miliran, Gowongan, Penumping, dan Kotagede. "Ide pembuatan film itu baru saja. Sedangkan, sekarang akan masuk penghujan. Biar tidak hilang momentum," kata Dandhy Dwi Laksono dari Watchdog yang menjadi produser, sutradara, sekaligus merangkap cameramen dalam film itu saat dihubungi Tempo, Ahad, 16 November 2014. (Krisis Air, Rebutan Air Berujung Saling Serang)
Tiga tempat pertama itu merupakan kawasan korban pembangunan hotel, apartemen yang menguras sumur warga. Sedangkan Kotagede menjadi daerah pembanding, bahwa sumur penduduk yang berjauhan dengan hotel, tidak kering meski kemarau. "Ini untuk mematahkan asumsi Badan Lingkungan Hidup. Kalau mengeringnya sumur warga karena kemarau panjang," kata Dandhy.
Proses riset film sudah dilakukan sejumlah aktivis sejak gerakan @JogjaAsat bergulir. Dengan kata lain, proses pembuatan film itu setelah #JogjaAsat gencar dikampanyekan. Hasil riset menunjukkan, satu kamar hotel menghabiskan 380 liter per hari. Satu kamar hanya dihuni paling tidak dua orang tamu. Sedangkan, satu rumah tangga hanya menghabiskan air 300 liter per hari. Rumah tangga itu berisi lebih dari dua orang. "Di Miliran, satu sumur itu digunakan warga beramai-ramai," kata Dodo. (Ahli Geologi: Muka Air Tanah Yogyakarta Terus Turun)
Di kampung ini, satu rukun tangga (RT) dihuni 68 kepala keluarga. Dalam satu RT ada 48 sumur. Usai pembangunan Hotel Fave, sebanyak 36 sumur kering sehingga warga menyuntiknya. Sedangkan 12 sumur surut drastis dan airnya keruh. "Setelah hotel itu disegel oleh Dinas Perizinan Kota pada 1 September lalu, sepekan kemudian air normal," kata Dodo.
Fakta itu sekaligus memperkuat, bahwa kemarau panjang bukan menjadi kambing hitam sumur warga asat. Film yang tengah dalam proses editing itu, rencananya akan berdurasi sepanjang 30 menit. Pekan depan, Dandhy dan kawan-kawannya akan memutarnya dengan berkeliling dari kampung ke kampung. "Seperti layar tancap. Kami tayangkan, misalnya di tembok rumah warga atau tembok masjid. Biar banyak warga ikut menonton," kata Dandhy.
Usai menonton film, ahli geologi yang didatangkan akan mengajak berdiskusi. Harapannya, ada pesan-pesan kampanye dan edukasi tentang perlindungan air.
PITO AGUSTIN RUDIANA
sumber: http://m.tempo.co/read/news/2014/11/16/058622287/Kampanye-JogjaAsat-Diangkat-ke-Film-Dokumenter
=========================================
jaman sekarang orang bisnis kog sampe jahat kayak begini ya? apalagi ini Jogja, masyarakat disana ga bakal rewel kalo penyokong hidup mereka diutak-atik. Dapet duit dikit aja masih anteng
Dikutip dari: http://adf.ly/vIf59


