
TEMPO.CO , Jakarta: Dalam daftar orang terkaya di dunia versi majalah ekonomi Forbes, terselip nama 19 konglomerat asal Indonesia. Mereka memiliki harta rata-rata senilai US$ 3 miliar atau sekitar Rp 34,7 triliun.
Jika dijumlahkan, nilai aset 19 orang terkaya di Indonesia mencapai US$ 47,65 miliar atau sekitar Rp 551,47 triliun. Angka ini setara dengan 4,3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2013 yang mencapai US$ 1,1 triliun atau sekitar Rp 12.729 triliun. (Baca juga: Daftar Orang Terkaya Indonesia 2014).
Para miliarder ini menguasai beragam bisnis, dari sektor agro, batubara hingga properti dan perbankan. Sang juara bertahan misalnya, bos Grup Djarum Budi dan Michael Hartono, sukses mengelola bisnis rokok, bank, dan hotel. Keduanya memiliki aset total US$ 15 miliar.
Ada juga yang masih mengandalkan industri ekstraktif seperti Low Tuck Kwong dan Edwin Soeryadjaya. Low, bos perusahaan tambang batubara Bayan Resources, duduk di posisi 15 dengan aset US$ 1,3 miliar. Edwin juga berjaya dengan tambang batubara Adaro di posisi 16, dengan total aset US$ 1,2 miliar. (Baca juga: Forbes Catat 268 Miliarder Baru).
Dalam diskusi yang diselenggarakan International NGO Forum on Indonesian Development (INFID), Selasa, 4 Maret 2014, pengamat kebijakan ekonomi dari Perkumpulan Prakarsa, Wiko Saputra, mengatakan kebanyakan dari miliarder Indonesia mengumpulkan kekayaan karena menguasai sumber daya alam. Cara mereka ternyata sama dengan pemerintah, "Yang masih mengandalkan eksploitasi sumber daya alam untuk mengejar target pertumbuhan," ujarnya. (baca: Bill Gates Jadi Orang Terkaya Versi Forbes).
Namun, kata Wiko, kekayaan mereka berbanding terbalik dengan rasio pembayaran pajak (tax rati0). Menurut dia tax ratio orang kaya di Indonesia hanya 1,2 persen, sementara rasio masyarakat kelas menengah ke bawah mencapai 13 persen. "Politik kebijakan pembangunan ekonomi menciptakan ketimpangan," kata dia.
http://www.tempo.co/read/news/2014/0...-43-Persen-PDB


