Kehidupan di Puncak Bogor memang tidak ada matinya. Siang hari, para wisatawan akan disajikan pemandangan alam nan indah. Geliat kehidupan malam di Puncak membuat para wisatawan menjadi bergairah.
Fenomena wisatawan Timur Tengah atau turis Arab yang banyak berada di Kawasan Puncak Bogor, mempunyai cerita lain. Kedatangan mereka nyatanya tidak hanya untuk menikmati liburan, banyak pula yang mencoba peruntungannya di wilayah berudara sejuk ini.
Salah satunya, jasa pemuas birahi. Seorang warga Kampung Ciburial, RT 01 RW 05, Desa Tugu Utara, Abidin menceritakan bahwa wanita Arab perempuan yang menjual jasa esek-esek berasal dari Maroko. Sehari-hari memang tidak memakai kerudung tertutup, melainkan memakai pakaian serba ketat sehingga terlihat lekuk tubuhnya.
Fenomena wisatawan Timur Tengah atau turis Arab yang banyak berada di Kawasan Puncak Bogor, mempunyai cerita lain. Kedatangan mereka nyatanya tidak hanya untuk menikmati liburan, banyak pula yang mencoba peruntungannya di wilayah berudara sejuk ini.
Salah satunya, jasa pemuas birahi. Seorang warga Kampung Ciburial, RT 01 RW 05, Desa Tugu Utara, Abidin menceritakan bahwa wanita Arab perempuan yang menjual jasa esek-esek berasal dari Maroko. Sehari-hari memang tidak memakai kerudung tertutup, melainkan memakai pakaian serba ketat sehingga terlihat lekuk tubuhnya.
Paras mereka memang cantik khas negeri Arab. Berkulit putih, bermata cokelat, berhidung mancung, berambut panjang kecoklatan. Jika berjalan di kawasan Puncak, mereka selalu menjadi perhatian para pria lokal atau turis Arab. Namun tak sembarangan untuk mencicipi pekerja seks komersial (PSK) impor ini. Harga yang ditawarkan pun terbilang mahal untuk sekali main. "Cewek Maroko itu harganya Rp 2 juta sampai Rp 5 juta semalem," kata Abidin kepada heibogor.com, Kamis (18/12/14).
Menurut Abidin, geliat prostitusi di kawasan Puncak memang menggoda untuk datang. Namun, pasca penggerebekan oleh aparat, PSK Maroko memilih pergi untuk mencari vila dan rumah kontrakan di wilayah lain. "Saat ini sudah tidak ada lagi PSK asal Maroko yang tinggal di lingkungan ini dan kami dengar mereka mencari kos atau kontrakan lebih kedalam dari jalan raya untuk mmenghindari razia petugas," ujarnya.
Abidin menambahkan, dahulu para PSK tersebut menjajakan diri sehabis magrib, namun sekarang operasinya tambah malam setelah jam 12 malam dan tidak lagi nongkrong di pinggir jalan tetapi di resto-resto mahal yang berbau Arab seperti Al-Jazeera dan Kamannana. Abidin mengungkapkan warga mendukung dengan ditangkapnya para PSK asal Maroko karena sikapnya yang tidak menghormati adat ketimuran.
"Masyarakat sebenarnya dari dulu sudah tidak suka terhadap mereka, mentang-mentang mereka membayar mereka bertindak semaunya seperti berpakaian terbuka sehingga meresahkan masyarakat terutama ibu-ibu," tambahnya.
sumber : Link Sumber
Dikutip dari: http://adf.ly/vSq4I


