Please disable ad-blocker to view this page



SITUS BERITA TERBARU

Politik Pencitraan Jelang Transisi Pemerintahan

Thursday, September 11, 2014

Pada mulanya, media massa merupakan entitas krusial dan maha penting digunakan para politisi guna membangun citra. Namun seiring terkoneksinya masyarakat beberapa tahun belakangan ini oleh kemudahan akses internet sebagai berkah dari dampak kompetisi provider dalam menawarkan layanan bisnis broadband, disertai tersedianya flatform new media berupa fasilitas jejaring sosial yang dapat digunakan gratis, maka terjadi pula ekspansi yang mengarah ke pergeseran politik pencitraan dari media mainstream ke media sosial. Ekskalasi pencitraan menggunakan new media, utamanya di media sosial menyeruak tak terbendung.

Para politisi mulai banyak yang meninggalkan media mainstream untuk menyampaikan pesan-pesannya kepada masyarakat. Maraknya media massa yang secara vulgar berpihak, berafiliasi ataupun menjadi corong partai politik atau dijadikan alat politik oleh elit politik tertentu, meruntuhkan kredibilitas pesan yang tumpah ruah dari media mainstream seperti koran, televisi dan portal berita. Berbeda misalnya bila menggunakan media sosial, seorang politisi bisa dengan bebas langsung menyampaikan pesan primer (primary sources) kepada masyarakat tanpa takut diplintir atau dikutip sepotong-sepotong yang bisa mengubah makna sebuah pesan dan pesan yang sampai ke masyarakat melalui media massa hanya bersifat secondary.


Presiden SBY nampaknya menyadari betul mega brand yang bisa diraup di sosial media serta benih-benih potensi destruktif media sosial terhadap citra yang dibangunnya bertahun-tahun. Maka Presiden SBY turun gunung. Presiden SBY biasanya menyampaikan sikap-sikap politik di media massa melalui konferensi pers, namun sejak 13 April 2013 Presiden SBY mulai menggunakan jejaring sosial berupa Twitter. Setelah eksis di mikroblog 140 karakter tersebut, Presiden SBY kemudian aktif di Facebook lalu menyusul menggunakan layanan video sharing YouTube sejak 5 Juli 2013. Dengan menggunakan jejaring sosial ini, SBY bisa menjawab langsung desas-desus sebelum berkembang menjadi opini yang merusak citranya. Sudah sering kali Presiden SBY mengklarifikasi berita miring melalui Twitter, Facebook maupun YouTube.

Agar statement tak diplintir oleh media massa sehingga berpotensi merusak citra, maka Presiden SBY pun memilih menggunakan saluran berbagi video gratis YouTube untuk menyampaikan sikap-sikap politiknya terkait pro kontra wacana pencabutan subsidi (kenaikan harga) BBM. Di akun video sharing YouTube bernama SBYudhoyono misalnya, Presiden SBY mengungkapkan alasan dan argumentasi-argumentasi terkait keputusannya untuk tidak menaikkan harga BBM.

Isu BBM merupakan isu strategis dan sangat sensitif sebab bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat kecil. Karena itu, ada upaya saling lempar bola panas antara Presiden SBY vs Jokowi menyikapi wacana kenaikan harga BBM. Pernyataan Presiden SBY di YouTube yang menolak menaikkan harga BBM sekaligus menjadi anti klimaks pro kontra wacana kenaikan harga BBM yang bergulir liar selama dua pekan. Setelah pernyataan tersebut, wacana kenaikan harga BBM pun redam menghilang. Presiden SBY sukses mengatrol citra pro rakyat di penghujung masa pemerintahan dengan hanya melalui media sosial gratisan.

Sumber Terkait: http://nasional.inilah..com/read/det...t#.VBEQK9xl6w0
http://poskotanews.com/2014/03/18/ra...itraan-jokowi/
http://indonesiasatu.kompas.com/read...dera.Transisi.



Dikutip dari: http://adf.ly/rxMyU
SHARE THIS POST:
FB Share Twitter Share

Blog Archive