Please disable ad-blocker to view this page



SITUS BERITA TERBARU

Andi Arief Pembisik Piramida Garut Terbukti Bohong

Friday, June 13, 2014
Created on Sunday, 05 January 2014 19:27

Bandung, GATRAnews - Keberadaan situs Gunung Padang telah ditengarai sejak zaman Hindia Belanda. Itu terbukti dengan adanya laporan yang dimuat pada Rapporten van de Oudheidkundige Dienst (ROD), buletin Dinas Kepurbakalaan, tahun 1914. Setelah Indonesia merdeka, keberadaan situs ini kembali disebut-sebut oleh sejarawan Belanda, N.J. Krom pada 1949. 

 

Baru 30 tahun kemudian, situs ini 'dibuka' kembali, Saat itu, tiga penduduk Desa Karya Mukti, yaitu Endi, Soma, dan Abidin melaporkan kepada Edi, Penilik Kebudayaan Kecamatan Campaka, mengenai keberadaan tumpukan batu-batu persegi besar dengan berbagai ukuran, yang tersusun dalam suatu tempat berundak yang mengarah ke Gunung Gede. 

 

Selanjutnya, bersama-sama dengan Kepala Seksi Kebudayaan Departemen Pendidikan Kebudayaan Kabupaten Cianjur, R. Adang Suwanda, dilakukan pengecekan. 

 

Laporan disampaikan ke Puslitarkenas yang kemudian menangani situs ini sejak tahun 1979. Hasil kajian sementara menyimpulkan bahwa situs Gunung Padang merupakan situs prasejarah peninggalan kebudayaan megalitikum di Jawa Barat, yang terletak di Desa Karya Mukti, Kecamatan Cempaka, Kabupaten Cianjur. 

 

Luas kompleks "bangunan" kurang lebih 900 meter persegi, pada ketinggian 885 meter di atas permukaan laut. Baru pada 1998, Gunung Padang ditetapkan sebagai situs cagar budaya dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 139/M/1998. 

 

Pada 2010, tiba-tiba saja Yayasan Turangga Seta, pimpinan Agung Bimo, Sutejo, mulai melansir adanya piramid di Gunung Lalakon di Soreang Kabupaten Bandung dan Gunung Sadahurip di Kabupaten Garut. 

 

Kelompok penelitian yang menggunakan metode metafisik, dalam arti menggunakan wisikan atau wangsit leluhur ini berdiri sejak tahun 2004. Mereka menyosialisasikan temuan tersebut pada Wakil Gubernur Jawa Barat, Dede Yusuf, pada 3 Maret 2011 dan memperkenalkan hipotesisnya di Jurusan Tambang ITB pada 6 Mei 2011. 

 

Staf Ahli Presiden Bidang Bantuan sosial dan Bencana, Andi Arief, waktu itu sedang melakukan penelitian mengenai gempa di kawasan Gunung Sadahurip dan Gunung Lalakon. 

 

Entah dengan latar belakang apa, Andi Arief kemudian membentuk Tim Katastropik Purba untuk mendukung pernyataannya bahwa setelah dilakukan penelitian intensif, ditemukan adanya bangunan berbentuk piramida, yang selain tertinggi dan terbesar di dunia, juga tertua, yaitu lebih dari 6.000 tahun sebelum Masehi, di Desa Sadahurip, Wanaraja, Kabupaten Garut, Jawa Barat. 

 

Pernyataan Andi Arief tentang adanya piramid, dibantah oleh para ahli geologi seperti Dr. Sujatmiko, yang melakukan observasi lapangan dan menyatakan kedua gunung itu bukanlah piramid, melainkan gunung api purba yang sudah mati. 

 

Temuan Andi Arief juga dibantah oleh Kepala Pusat Penelitian Arkeologfi Nasional, Dr. Bambang Sulistyo, yang menyatakan bahwa budaya kita tidak mengenal piramid, melainkan punden berundak-undak atau candi. 

 

Tidak lama kemudian, masyarakat Cianjur dan Jawa Barat khususnya, Indonesia umumnya, dikejutkan dengan berita yang dilansir oleh Tim Katastropik Purba bahwa di dalam situs Gunung Padang, di Kabupaten Cianjur, terdapat piramida, yang umurnya lebih tua daripada piramid di Mesir. 

 

Tim Katastropik Purba yang terdiri dari geolog LIPI Dr. Danny Hilman, arkeolog Universitas Indonesia (UI) Dr. Ali Akbar, dan lain-lain terus melanjutkan penelitiannya dan mengekspos hasil penelitiannya di berbagai media massa. 

 

Bupati Cianjur, pada awal tahun 2012, mengundang para pakar yang terdiri dari Prof. Dr. Nina H. Lubis, MS (sejarawan), Dr. Budi Brahmantyo (ahli geologi), Lutfi Yondri (arkeolog Balar Bandung) dan lain-lain untuk mendengarkan paparan Tim Andi Arief di Pendopo Kabupaten Cianjur. 

 

Mei 2012, Tim Katastrofik Purba berganti nama menjadi Tim Terpadu Penelitian Mandiri Gunung Padang. Tim Andi Arief mengundang para pakar: Prof. Dr. Nina H. Lubis (sejarawan), Lutfi Yondri, MHum (dari Balai Arkeologi Bandung), Prof. Mundarjito (arkeolog senior dari UI), Dr. Bambang Sulistyo (Kepala Puslitarkenas), dan lain-lain untuk rapat di Bina Graha. 

 

Waktu itu, penulis meminta agar penelitian dipimpin oleh arkeolog senior Prof. Mundarjito. Tapi permintaan tersebut ditolak, maka tim pakar menolak untuk duduk dalam tim tesebut. 

 

Tim Andi Arief, yang ganti nama lagi menjadi Tim Terpadu Riset Mandiri (TTRM), berjalan terus melakukan penelitian tanpa mengindahkan kritik dan kecaman para pakar arkeologi ataupun pakar geologi, seperti Prof. Soetikno Bronto, Prof. Dr. Harry Truman Simanjuntak, Dr. Sujatmiko. 

 

Akhirnya, sebanyak 34 peneliti mengadakan pertemuan di Puslitarkenas untuk membahas penelitian yang dilakukan TTRM ini dan mengajukan petisi kepada Presiden SBY, yang disusun sejak Jumat 26 April 2013. 

Mereka berafiliasi di bawah bendera Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia, Ikatan Ahli Geologi Indonesia, Kelompok Riset Cekungan Bandung, dan Himpunan Ahli Geofisika Indonesia. Sebagian besar dari mereka adalah peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas). Isi petisi: moratorium ekskavasi Gunung Padang yang dilakukan TTRM. 

 

Selanjutnya, dilansir berita oleh TTRM bahwa pada 11-12 Mei akan dilakukan ekskavasi besar-besaran dengan melibatkan tenaga sukarela masyarakat awam. Oleh karena itu, pada 9 Mei 2013, Wamendikbud, Wiendu Nuryanti, mengundang para pakar untuk rapat di Jakarta. 

 

Tujuannya, untuk membentuk tim peneliti Gunung Padang di bawah Dirjenkebud Direktorat Cagar budaya. Dalam rapat itu datang dua anggota tim Andi Arief, yaitu Dr. Danny Hilman dan Dr Ali Akbar. Tim ini batal dibentuk entah karena apa. 

 

Namun, diberitakan bahwa pada 18 Mei 2013, tim Andi Arief melakukan presentasi di depan Presiden SBY. 

 

Selanjutnya, pada 24 Mei 2013, Presiden SBY mengadakan rapat Koordinasi membahas hasil temuan Tim Terpadu Riset Mandiri Gunung Padang. Rapat itu dihadiri oleh TTRM, Sekretaris Kabinet, Dipo Alam; Mendikbud, Mohammad Nuh; Menteri PU, Djoko Kirmanto; Menparekraf, Mari E. Pangestu; Menteri Lingkungan Hidup, Balthasar Kambuaya; Kepala BPN, Hendarman Soepandji; dan Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan. 

 

Hasil rapat: tim Andi Arif didukung untuk penelitian dengan bantuan dana abadi Kemendikbud. Pada 19 November 2013, keluar surat keputusan Gubernur Jawa Barat yang menunjuk TTRM sebagai tim peneliti Gunung Padang. 

 

Namun pada 16 Desember 2013, Gubernur menarik SK tersebut untuk direvisi dan membatalkan TTRM sebagai tim peneliti satu-satunya yang didukung Pemprov Jawa Barat. 

 

[Nina Herlina Lubis, Guru besar ilmu sejarah Universitas Padjadjaran/Ketua Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat.] 

[Rubrik: KOLOM, Majalah GATRA Edisi no 09 tahun ke 26, Beredar 2 Januari 2014]

 
sumber : http://www.gatra.com/kolom-dan-wawan...sejarah-1.html

andi arief yang membisikkan SBY piramida garut terbukti bohong setelah diperiksa oleh Lembaga Arkeologi Negara

kasus bohong ini menyebabkan andi arief dipecat sebagai staf khusus oleh SBY

sekaranf andi arief ini orang yang lagi sebar fitnah ke Jokowi, hati - hati ndi, ntar kayak kasus bohong kemarin lho
SHARE THIS POST:
FB Share Twitter Share

Blog Archive