Waktu pertama kali muncul isi Jokowi copras capres saya melihat antusiasme masyarakat indonesiayang menyambut kabar itu. kemunculan beliau memang memberikan angin segar bagi iklim politik indonesia yang sudah lama diterjang badai kebobrokan. apa yang saya liat dari fenomena ini adalah kerinduan masyarakat Indonesia akan pemerintahan yang sehat dan bersih. kerinduan ini pada akhirnya berpihak kepada itikad untuk memberantas mafia, koruptor, dan bedebah yang lama menggerogoti kesehatan ibu pertiwi sang macan asia. Jokowi membawa harapan itu, begitu banyak rakyat yang menitipkan harapanya pada beliau meskipun tidak sedikit cuga yang mencurigai sosok ini. tapi fenomena yang terjadi akhir-akhir ini di panggung sandiwara politik indonesia, membuat saya lebih yakin bahwa keberpihakan sebagian rakyat Indonesia padaJokowi adalah BUKAN keberphikan buta, bukanlah fanatisme bapa sosok individu. tapi keberpihakan sebagaian saudara kita dalah keberpihakan pada harapan akan Indonesia baru, keberpihakan pada kebenaran, keberpihakan pada INDONESIA. begitu pak jokowi ini tersandera dalam politik koalisinya sendiri, tidak sedikit masyarakat yang mengkritisi bahkan mengancam menarik dukunganya. ini bukti yang seharusnya dilihat pak Jokowi dan Koalisinya, bahwa Kami Rakyat Indoenesia tidak mendukung Bapa Jokowi apalagi PDIP dan kroninya yang kami Dukung Adalah Harapan Indonesia Baru, harapan Indonesia yang Bersih dan Sehat, Harapan yang pernah dibawa oleh Pak Jokowi, keberpihakan kepada INDONESIA. Ingatlah bapak Jokowi, jika anda lemah menghadapi Koalisi bapak, kekuasaan bapa, amanat yang bapa bawa adalah titipan kami, bukan titipan PDIP, NASDEM atau antek antek busuk yang lain. jangan takut untuk melawan mereka !!
Harga BBM Naik, Relawan Jokowi Kecewa
TEMPO.CO, Makassar - Keputusan Presiden Joko Widodo menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi membuat sejumlah warga kecewa. Tak terkecuali relawan Jokowi yang mendukungnya pada pemilu presiden lalu. (Baca: Pengecer Bingung Tentukan Harga Baru Bensin)
Seorang warga yang mengaku sebagai mantan ketua relawan Jokowi, Jafar, 50 tahun, kecewa dengan keputusan mantan Gubernur DKI Jakarta itu. Menurut dia, keputusan ini sangat melukai hati rakyat. (Baca: Harga BBM Naik, Menkeu: Inflasi Naik 2 Persen)
"Saya sangat kecewa. Padahal, pada kampanye lalu, kami mendukungnya mati-matian," katanya, Senin malam, 17 November 2014.
Menurut dia, kebijakan Jokowi menaikkan harga BBM sangat berbeda dengan komitmennya saat kampanye pilpres lalu. Jokowi saat itu berjanji akan berpihak kepada rakyat.
Kenaikan harga BBM diumumkan oleh Presiden Jokowi didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla beserta sejumlah menteri Kabinet Kerja di Istana Presiden, Senin malam, 17 November 2014. Pemerintah menaikkan harga Premium dari Rp 6.500 menjadi Rp 8.500 per liter dan harga solar dari Rp 5.500 jadi Rp 7.500 per liter.
sumber: http://www.tempo.co/read/news/2014/1...-Jokowi-Kecewa
Banyak Orang Ingin Jadi Menteri, Relawan Jokowi-JK Kecewa
JAKARTA, KOMPAS.com — Barisan Relawan Jokowi for President (Bara JP) kecewa dengan banyaknya pihak yang terang-terangan menyodorkan diri atau nama lain untuk menjadi menteri dalam kabinet Joko Widodo-Jusuf Kalla.
Harga BBM Naik, Relawan Jokowi Kecewa
TEMPO.CO, Makassar - Keputusan Presiden Joko Widodo menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi membuat sejumlah warga kecewa. Tak terkecuali relawan Jokowi yang mendukungnya pada pemilu presiden lalu. (Baca: Pengecer Bingung Tentukan Harga Baru Bensin)
Seorang warga yang mengaku sebagai mantan ketua relawan Jokowi, Jafar, 50 tahun, kecewa dengan keputusan mantan Gubernur DKI Jakarta itu. Menurut dia, keputusan ini sangat melukai hati rakyat. (Baca: Harga BBM Naik, Menkeu: Inflasi Naik 2 Persen)
"Saya sangat kecewa. Padahal, pada kampanye lalu, kami mendukungnya mati-matian," katanya, Senin malam, 17 November 2014.
Menurut dia, kebijakan Jokowi menaikkan harga BBM sangat berbeda dengan komitmennya saat kampanye pilpres lalu. Jokowi saat itu berjanji akan berpihak kepada rakyat.
Kenaikan harga BBM diumumkan oleh Presiden Jokowi didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla beserta sejumlah menteri Kabinet Kerja di Istana Presiden, Senin malam, 17 November 2014. Pemerintah menaikkan harga Premium dari Rp 6.500 menjadi Rp 8.500 per liter dan harga solar dari Rp 5.500 jadi Rp 7.500 per liter.
sumber: http://www.tempo.co/read/news/2014/1...-Jokowi-Kecewa
Banyak Orang Ingin Jadi Menteri, Relawan Jokowi-JK Kecewa
JAKARTA, KOMPAS.com — Barisan Relawan Jokowi for President (Bara JP) kecewa dengan banyaknya pihak yang terang-terangan menyodorkan diri atau nama lain untuk menjadi menteri dalam kabinet Joko Widodo-Jusuf Kalla.
"Sudah tahu kan cara kerja Pak Jokowi itu tanpa bagi-bagi kursi, transaksional. Tapi, masih ada saja yang usaha sodorkan nama menteri. Kami kecewa," ujar Ketua Bara JP Sihol Manulang melalui pesan singkat kepada Kompas.com, Senin (11/8/2014).
"Harusnya pihak-pihak itu tahu dirilah. Sudah, serahkan saja kepada hak prerogatif presiden. Kita harusnya hanya pantau prosesnya," lanjut dia.
Sihol mengatakan, pihaknya sama sekali tidak bicara soal pembentukan kabinet setelah pemungutan suara pada 9 Juli lalu. Bara JP, kata Sihol, menggunakan cara yang lebih elegan dalam mendukung pemerintahan Jokowi-JK.
Ia menambahkan, saat ini relawannya tengah melakukan investigasi adanya praktik mafia di sejumlah kementerian. Dia menyebut ada dua kementerian yang rentan praktik mafia, yakni Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dan Kementerian Pertanian.
"Sangat merugikan rakyat. Itu yang kami kejar. Bukan soal menterinya, tapi proses mencari menterinya," lanjut Sihol.
Hasil investigasi relawan, kata Sihol, akan diberikan kepada Jokowi sebelum pelantikan presiden dan wakil presiden pada 20 Oktober 2014.
Proses akhir pilpres masih menunggu keputusan Mahkamah Konstitusi. Kubu Prabowo Subianto-Hatta Rajasa menggugat keputusan KPU yang menetapkan Jokowi-JK sebagai presiden dan wakil presiden terpilih.
http://nasional.kompas.com/read/2014...kowi-JK.Kecewa
Bambang Widjo Ditangkap, PDIP Dikecam
TEMPO.CO, Jakarta - Penangkapan pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi, Bambang Widjojanto, oleh Markas Besar Kepolisian pada Jumat, 23 Januari 2015, dikecam aktivis antikorupsi di Tanah Air, termasuk barisan relawan pendukung Joko Widodo saat kampanye pemilu presiden lalu. (Baca: Bambang Widjojanto Jadi Tersangka Keterangan Palsu)
Relawan Jokowi dari Arsitek Komunitas (Arkom) Yogyakarta menilai penangkapan Bambang Widjojanto diyakini sebagai upaya kriminalisasi KPK yang dilakukan secara masif oleh Mabes Polri dengan dukungan partai politik, terutama Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Hal itu tak lepas dari tindakan KPK menetapkan calon Kapolri Komisaris Jenderal Budi Gunawan sebagai tersangka.
"PDIP sebagai partai pengusung Jokowi dan menang pilpres jangan sombong, lihat kepentingan masyarakat luas," kata Koordinator Relawan Jokowi dari Arsitek Komunitas (Arkom) Yogyakarta, Lilik Rohmad Ahmadi, kepada Tempo, Jumat. (Baca: Bambang Widjojanto Jadi Tersangka dalam 8 Hari)
Lilik mengatakan, sampai saat ini, tak ada bukti soal campur tangan PDIP dalam kriminalisasi KPK. Namun relawan melihat PDIP sebagai partai yang paling punya peran strategis dalam mendorong Budi Gunawan sebagai Kapolri. Budi sendiri merupakan bekas ajudan Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri, yang tak lain Ketua Umum PDIP.
Dia berpendapat seharusnya PDIP dan koalisi menjaga Jokowi. "Jangan malah ikut berusaha menggagalkan cita-cita Jokowi dengan cara ikut menyerang KPK," kata Lilik.
PDIP melalui Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal Hasto Kristiyanto sehari sebelum penangkapan Bambang, Kamis, 22 Januari, ikut berusaha menyerang Ketua KPK Abraham Samad. Dia menyebut Samad memendam kekecewaan karena gagal melobi PDIP untuk menjadi calon wakil presiden Jokowi.
Relawan Jokowi, ujar Lilik, kian gerah dengan manuver PDIP dan koalisi pengusung Jokowi yang terus-menerus bertentangan dengan langkah Jokowi dalam mewujudkan upaya penegakan hukum.
sumber: http://www.tempo.co/read/news/2015/0...ce=twitterfeed
Dikutip dari: http://adf.ly/wanKu


