![[imagetag]](http://kaskus.co.id/images/smilies/rate5.gif)
![[imagetag]](http://kaskus.co.id/images/2013/12/14/5988971_20131214070746.jpg)
![[imagetag]](http://kaskus.co.id/images/2013/12/14/5988971_20131214070848.jpg)
Pada gol pertama, Adisak cenderung lebih mundur ke tengah mendekat kepada Thawikan. Kerja sama dua pemain ini di sayap kiri lalu menciptakan ruang kosong di depan gawang lawan, yang lalu dimanfaatkan Pokklaw.
Pelatih Indonesia, Rahmad Darmawan, sebenarnya terlihat mengintruksikan keempat pemain untuk menerapkan zonal marking di belakang. Namun skema ini bermasalah karena lawan dengan bebas berkreasi di luar area kotak pinalti. Untuk mencegahnya, otomatis poros ganda Egi Melgiansyah-Dedi Kusnandar harus menjaga kerapatan dengan empat bek. Gol pertama sendiri terjadi setelah Adisak berhasil memancing Egi meninggalkan posisinya.
![[imagetag]](http://kaskus.co.id/images/2013/12/14/5988971_20131214070944.jpg)
Untuk menutup pergerakan Pokklaw, mestinya Manahati Lestusen naik menjegal. Tetapi ia malah lari mundur ke belakang mengira bahwa Pokklaw akan melakukan umpan terobosan. Perkiraan Lestusen ini memang masuk akal. Kecerdikan dua pemain Thailand, Adisak dan Chappuys, yang berlari ke area kotak penalti membuat Lestusen ragu-ragu. Padahal ada Diego dan Andri Ibo yang menjaga Adisak dan Chappuys.
Melawan tim yang menerapkan garis pertahanan dalam, Adisak Kraisorn berperan sebagai false nine. Ia akan menarik dua centerback Indonesia naik ke depan sembari bertugas sebagai pemantul bola kepada lima pemain tengah Thailand lainnya.
Gol pertama dan kedua Thailand pun terjadi karena hal itu, yaitu salah komunikasi yang teramat buruk antara Diego-Andri Ibo-Lestusen.
Pada gol kedua, sebagai seorang sweeper, Andri Ibo jelas tak siap menerima umpan dadakan Lestusen yang malah membuang bola ke belakang. Namun, blunder yang Ibo lakukan tentu tak lepas dari kesalahan Lestusen juga.
Dua fullback, Alfin dan Diego, pun terlihat enggan turut naik membantu ke depan. Salah satunya disebabkan karena ketakukan RD pada sayap Thailand yang tampil mengerikan.
Untuk memberikan suplai bola, RD hanya mengandalkan umpan-umpan panjang. Imbasnya sepakbola kutak-katik kembali terjadi. Permainan hanya mengandalkan skill dan kecepatan individu semata lewat Andik dan Pahabol di flank. Berlari, berlari, dan berlari. Itulah yang hanya mereka lakukan, karena minimnya rekan yang mendekat.
Pergantian antar pemain pun dilakukan RD dengan memindahkan Andik ke kanan dan Pahabol ke tengah. Hasilnya? Nihil. Pergantian posisi nyatanya tak berpengaruh taktik dan pola serangan. Ini karena Indonesia hanya memanfaatkan serangan dari sayap serta minim kreatifitas membangun serangan dari tengah (lihat chalkboard passing di bawah).
![[imagetag]](http://kaskus.co.id/images/2013/12/14/5988971_20131214071200.jpg)
![[imagetag]](http://kaskus.co.id/images/2013/12/14/5988971_20131214071247.jpg)
Sementara itu, tiga pemain tengah lainnya dipasang untuk mengisolir lini tengah dan lini depan Indonesia. Kesuksesan Thailand menguasai lini tengah ini tak ayal karena triangular antar pemain yang berjalan efektif.
Para pemain di berbagai lini menjaga kerapatan dengan pemain lainnya dalam membentuk segitiga-segitiga, entah itu saat menyerang ataupun saat bertahan dan melakukan pressing. Saat Indonesia memasuki area final third Thailand, maka akan ada tiga atau empat pemain yang siap menghadang. Wajar saja jika dengan mudah Thailand melakukan intersep seperti tergambar dalam chalkboard di bawah.
![[imagetag]](http://kaskus.co.id/images/2013/12/14/5988971_20131214071441.jpg)
Taktik bertahan RD ini belum optimal di menit-menit awal babak pertama. Gol yang dicetak Thailand di menit ke-2 adalah buktinya. Dengan begitu mudah Thailand mengecoh Indonesia di sayap kanan untuk membongkar barisan tengah Indonesia.
Dilihat dari permainan, tentu saja pelatih Thailand Kiatisuk Senamuang lebih lihai ketimbang RD. Secara cekatan ia menyesuaikan pemain-pemainnya untuk bermain dengan pola baru, saat RD menerapkan pola bertahan dan hanya menyerang dari flank. "Bermain sabar, menunggu ditekan, melihat peluang dan mencetak gol," itulah pujian RD yang ditujukan kepada Kiatisuk.
Pertanyaannya yang kemudian menggelitik adalah, saat Kiatisuk merubah pola, kenapa RD masih tetap kukuh memakai taktik yang sama? Ia tak mengubah taktik dan hanya melakukan rotasi pemain di area flank dengan menukar Pahabol-Andik-Bayu Gatra.
Andaikan RD peka, peluang untuk menguasai lapangan tengah teramat besar jika ia menaikan garis pertahanannya agak lebih depan. Peran Egi dan Dedi pun mungkin akan lebih teroptimalkan. Dan sebenarnya di laga kemarin RD melakukan hal itu. Tetapi, saat timnas sudah tertinggal 3-0. Telat!
Sumber :


