Polisi Prancis Endus Penyerang Charlie Hebdo

Polisi Prancis mengaku berhasil mengindentifiksai pelaku penyerangan terhadap majalah kartun Charlie Hebdo yang mengakibatkan 12 orang tewas, berikut empat kartunis dan dua perwira polisi. Untuk keperluan pengejaran, polisi menyebarkan foto dua bersaudara yang diduga sebagai pelaku.
Menurut polisi, dua bersaudara itu bernama Said Kouachi, 34 tahun, dan Cherif Kouachi, 34 tahun. Dalam keterangannya kepada media, polisi mengatakan, serangan mematikan pada Rabu, 7 Januari 2015, itu dibantu oleh seorang remaja tuna wisma di jantung kora Paris sebelum mereka melarikan diri dengan sebuah mobil.
Sejumlah saksi mata mengatakan, para penyerang berbicara lancar dengan aksen Prancis dan meneriakkan "Allahu Akbar!" saat mereka menghamburkan peluru tajam ke arah kantor pusat Charlie Hebdo tak jauh dari monumen Bastille, ikon Kota Paris.

Polisi Prancis mengaku berhasil mengindentifiksai pelaku penyerangan terhadap majalah kartun Charlie Hebdo yang mengakibatkan 12 orang tewas, berikut empat kartunis dan dua perwira polisi. Untuk keperluan pengejaran, polisi menyebarkan foto dua bersaudara yang diduga sebagai pelaku.
Menurut polisi, dua bersaudara itu bernama Said Kouachi, 34 tahun, dan Cherif Kouachi, 34 tahun. Dalam keterangannya kepada media, polisi mengatakan, serangan mematikan pada Rabu, 7 Januari 2015, itu dibantu oleh seorang remaja tuna wisma di jantung kora Paris sebelum mereka melarikan diri dengan sebuah mobil.
Sejumlah saksi mata mengatakan, para penyerang berbicara lancar dengan aksen Prancis dan meneriakkan "Allahu Akbar!" saat mereka menghamburkan peluru tajam ke arah kantor pusat Charlie Hebdo tak jauh dari monumen Bastille, ikon Kota Paris.
Majalah kartun Charlie Hebdo sebelumnya pernah mendapatkan serangan pada 2011 karena dianggap menghina Nabi Muhammad, junjungan umat Islam. Serangan pada Rabu, 7 Januari 2015, terhadap mingguan ini mengundang kecaman dan kutukan dari penjuru dunia. Presiden Prancis Francois Hollande mengatakan serangan itu merupakan aksi kaum teroris yang luar biasa. Adapun serangan lainnya, jelas Hollande, berhasil digagalkan oleh petugas keamanan.
Saat ini, di Prancis dan beberapa negara Eropa lainnya muncul ketakutan yang sangat tinggi setelah sejumlah orang kembali dari perang di Suriah dan Irak. Mereka dikhawatirkan melakukan serangan di dalam negeri. Dalam pidato yang disiarkan ke seluruh Prancis, Rabu malam, 7 Januari 2015, waktu setempat, Hollande berjanji akan memburu para pembunuh dan meminta pelaku lainnya menyerahkan diri. "Mari kita bersatu dan kami pasti menang," ujarnya. "Vive la France!"
SUMBER (www.tempo.co)
Dikutip dari: http://adf.ly/w0i1T


