Please disable ad-blocker to view this page



SITUS BERITA TERBARU

Yang Rindu Sosok Pemimpin Seperti Bung Karno, Pilih Gita Wirjawan

Wednesday, December 4, 2013
[imagetag]

AyoGitaBisa.com - Percaya diri. Itulah satu kata yang tepat untuk kita letakkan di dada Presiden Soekarno. Terlalu banyak catatan kecil di mana Presiden Soekarno mendobrak Protokoler International untuk mengikuti Protokoler ala Soekarno.

Jangankan hanya di Negara kelas 3, Amerika pun harus mampu menekan dada atas dobrakan yang dilakukan oleh Presiden Soekarno. Maka tak heran apabila setiap kunjungan kenegaraan keberbagai Negara sosok Presiden Soekarno selalu menjadi headline.

Penting untuk digarisbawahi pula, Bung Karno pada awalnya menjadi satu-satunya pemimpin Dunia Ketiga yang dengan sangat santun menjalin serta menjaga jarak hubungan yang sama dan seimbang, dengan negara-negara Barat maupun Timur. Itu dibuktikan ketika ia menjadi salah satu founding father pembentukan Gerakan Nonblok (GNB) sebagai kelanjutan dari Konferensi Asia-Afrika di Bandung tahun 1955.

Sayang sekali, inisiatif-inisiatif diplomasi Bung Karno terhenti di tengah jalan saat ia diisolasi dari kekuasaannya. Warisan Bung Karno bukan hanya menjadi diorama yang bagus dilihat-lihat, tetapi juga masih kontekstual untuk zaman-zaman selanjutnya.

Jejak bilateralnya kini ditiru oleh Menteri Perdagangan Kabinet Bersatu Jilid II, Gita Wirjawan. Sebagai motor perdagangan dan pemimpin yang andal di sektor investasi, Gita melaju kencang dengan menjalin bilateral dengan banyak negara. "Saya berkunjung ke negara lain untuk bertemu langsung dengan pemimpinnya, untuk menjalin kerjasama demi terwujudnya investasi gemilang di Indonesia dan stabilitas harga bahan pokok yang menyejahterakan rakyat," ujarnya saat menemui Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte, di Hotel Borobudur, Jakarta (21/11).

Lawatannya ke negara lain adalah puzzle strategi yang dihimpun guna mewujudkan visi misinya untuk mewujudkan Indonesia yang sejahtera, merata, adil dan berkualitas berpihak pada rakyat serta berdaulat.

Sedikit tau soal gaya Soekarno yaitu prinsip politik yang mempersatukan elite adalah "alle leden van de familie aan een eet-tafel" (semua anggota keluarga duduk bersama di satu meja makan). Dia memperhatikan asal-usul daerah, suku, golongan, dan juga partai. Hal itu sering diterapkan oleh Gita Wirjawan saat berkunjung atau menerima kunjungan dari tokoh internasional. Sampai - sampai hal tersebut juga diterapkan di meja makan keluarga Gita Wirjawan di rumahnya.

Jika berbicara mengenai sumber-sumber yang mempengaruhi "politik global" Bung Karno, sesungguhnya mudah untuk memahaminya. Ia lahir dari persatuan antara dua etnis, Bali dan Jawa Timur. Perjalanannya yang panjang dan berliku di Indonesia membuatnya mengenal dari dekat kehidupan berbagai etnis. Pernyataan tersebut tak jauh berbeda dengan rekam kehidupan Gita Wirjawan.

Si Bungsu peranakan Jawa-Manado ini juga punya perjalanan panjang di Indonesia. Sejak ia disuruh orang tuanya untuk meraih pendidikan ke luar negeri, Gita mulai menyelami kebudayaan berbagai etnis asing. Dari sanalah ia makin jitu dalam membuat strategi kerjasama dengan asing. Jiwa Nasionalis Gita makin tinggi tatkala didapuk untuk masuk dalam sistem pemerintahan Indonesia, sekitar 4 tahun lalu mengawalinya menahkodai Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Sekelumit kisah persamaan Soekarno dan Gita ini menjadi bukti bahwa Gita Irawan Wirjawan merupakan sosok yang mumpuni untuk menjadi pemimpin di masa datang. Bukan tidak mungkin kedaulatan era Soekarno bangkit kembali guna menyongsong kegemilangan Indonesia yang berdaulat dan 'bangga berbangsa', seperti yang dijelaskan dalam bukunya 'Sebuah Perjalanan'. "Tentu sangat wajar jika kita berkaca pada apa yang mereka lakukan. Hal positif yang mereka lakukan di masa lalu bisa diulang, dan kekurangan bisa diperbaiki," kata Gita di bukunya.

[asa]

Sumber

Tiada pemimpin yang visioner dan setegas bung Karno, tiada pula ada pemimpin yang berani mengobarkan ancaman perang kepada negara yang membawa ketidak adilan kepada negara Indonesia. Nah dengan adanya sosok Bung Karno di dalam diri Gita Wirjawan, beliau berani menggugat negara dimana tempat dulunya beliau menuntu ilmu demi melindungi petani Indonesia dan semua itu dilakukan atas dasar cintanya kepada tanah air tercinta.

[imagetag]

Salam.
Berani Lebih Baik.
SHARE THIS POST:
FB Share Twitter Share

Blog Archive