Hujan Turun di Palembang, Asap Makin Menghantui

Hujan mulai mengguyur beberapa daerah di Sumatera Selatan pada Kamis sore, 16 Oktober 2014. Hujan rintik-rintik sempat terjadi di Palembang. Namun hujan tersebut belum dapat memadamkan api di hutan dan lahan gambut di daerah itu. Bahkan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang memprediksi hujan tipis dapat mempertebal asap.
Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang Agus Santosa mengatakan gerimis belum dapat menembus bagian terdalam dari lahan gambut. Dengan demikian, dia meyakini hujan tipis dan dalam waktu yang tidak lama itu hanya akan memicu timbulnya asap. "Hujan kecil mulai terjadi di beberapa daerah, tetapi itu belum dapat memadamkan api, justru banyak asap," kata Agus Santosa, Kamis, 16 Oktober 2014.

Hujan mulai mengguyur beberapa daerah di Sumatera Selatan pada Kamis sore, 16 Oktober 2014. Hujan rintik-rintik sempat terjadi di Palembang. Namun hujan tersebut belum dapat memadamkan api di hutan dan lahan gambut di daerah itu. Bahkan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang memprediksi hujan tipis dapat mempertebal asap.
Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang Agus Santosa mengatakan gerimis belum dapat menembus bagian terdalam dari lahan gambut. Dengan demikian, dia meyakini hujan tipis dan dalam waktu yang tidak lama itu hanya akan memicu timbulnya asap. "Hujan kecil mulai terjadi di beberapa daerah, tetapi itu belum dapat memadamkan api, justru banyak asap," kata Agus Santosa, Kamis, 16 Oktober 2014.
Agus Santosa meyakini peningkatan intensitas hujan akan terjadi pada akhir pekan ini hingga akhir Oktober. Bahkan, kata dia, hujan yang terjadi di wilayah utara Sumatera Selatan tidak sempat sampai ke tanah karena terhalang kabut asap.
Butiran hujan, kata Agus, hilang di antara kabut asap yang menggantung di udara. Hujan dengan frekuensi yang rendah hanya mampu mengurangi konsentrasi kabut asap pada ketinggian tertentu. "Memang titik api mulai berkurang, namun asap masih akan ada, jadi kami masih berharap hujan alami bisa segera terjadi."
Dinas Kesehatan Sumatera Selatan mencatat kabut asap telah memicu terjadinya peningkatan penderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Kota Palembang, Kayu Agung, Indralaya, dan daerah-daerah terdekat dengan sumber api merupakan titik rawan peningkatan ISPA. Kepala Bidang Bina Pengendalian Masalah Kesehatan Dinkes Sumsel Matdani Nurcik mengatakan kasus ISPA hingga September 2014 mencapai 44 per 10 ribu jiwa. "September-Oktober bulan-bulan paling parah terjadinya kasus ISPA," kata Matdani.
SUMBER
Dikutip dari: http://adf.ly/svDUP


