Please disable ad-blocker to view this page



SITUS BERITA TERBARU

ICP Turun, Kenapa BBM Mau Naik?

Saturday, October 25, 2014
Jumat, 24 Oktober 2014 | 15:55 WIB


INILAHCOM, Jakarta--Harga minyak dunia turun cukup tajam. Harga minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate(WTI) maupun Brent North Sea untuk pengiriman Desember berada di bawah US$ 90.

Berbarengan dengan itu, harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) juga ikut turun. Ditjen Migas Kementerian ESDM menulis, harga rata-rata ICP pada September 2014 mencapai US$ 94,97 per barel, atau turun US$ 4,54 per barel dari US$ 99,51 per barel di bulan Agustus 2014.

Meskipun ICP pada Agustus dan September berada di bawah US$ 100 per barel, namun rata-rata ICP dari Januari-September sebesar US$ 104 per barel. Artinya, hanya ada penurunan US$ 1 per barel dari ICP US$ 105 dalam APBN-P 2014.

Dirjen Anggaran Kementerian Keuangan Askolani menjelaskan, kalau harga minyak turun US$ 1 per barel, maka defisit anggaran turun Rp 2 triliun setahun. Sebaliknya, jika harga minyak naik US$ 1 per barel, anggaran defisit bertambah Rp 2 triliun setahun.

Tentu saja, ini kabar yang menggembirakan. Paling tidak bisa mengurangi defisit anggaran subsidi BBM. Pertanyaannya: kenapa harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tak ikut turun, bahkan kabarnya malah akan naik? Sampai hari ini, harga bensin premium tetap bertengger di angka Rp 6.500 per liter dan solar Rp 5.500 per liter.

Masih bertahannya harga BBM bersubsidi—malah kemungkinan besar akan naik—lantaran selisih harga minyak dunia dan ICP dengan harga BBM bersubsidi masih terlalu lebar. Harga minyak dunia dan ICP hanya turun di bawah angka 5%.

Tentu saja, penurunan tersebut terbilang kecil. Apalagi, ICP bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi defisit anggaran. Ada satu lagi, yakni nilai tukar rupiah yang belakangan cenderung turun.

Artinya, penurunan harga minyak dunia dan ICP tak berpengaruh banyak ke anggaran subsidi BBM. Bahkan, anggaran subsidi diperkirakan akan naik, karena konsumsi BBM bersubsidi sampai akhir tahun ini bakal melebihi kuota sebanyak 46 juta kiloliter.

Kecuali nanti, kalau harga minyak dunia dan ICP terus turun sampai beberapa bulan, hampir pasti defisit anggaran subsidi BBM semakin mengecil. Dan, bukan tak mungkin harga BBM bersubsidi ikut turun. (lat)
SUMBER


Dikutip dari: http://adf.ly/tNLfE
SHARE THIS POST:
FB Share Twitter Share

Blog Archive