SITUS BERITA TERBARU

Tabir Kisah Mahabrata

Monday, July 8, 2013
[imagetag]
Sudah sejak lama orang mengenal kisah Mahabharata. Para pecinta karya sastra mengenalnya dari berbagai sumber tulisan berupa naskah-naskah kuno. Dalam perjalanan panjang Mahabharata, semenjak diciptakan sekian ratus tahun yang lalu hingga kini, telah berkembang berbagai versi yang tersaji dalam bahasa yang indah dan sarat dengan ajaran moral.
Dua keturunan Bharata yang term[imagetag]asyhur, yaitu Kaurawa dan Pandawa, akhirnya berperang dalam perang besar Bharatayudha untuk memperebutkan kekuasaan.

Dalam kesusastraan Indonesia kuno kita mengenal dua epos besar, yaitu Ramayana dan Mahabharata, yang pada awalnya ditulis dalam bahasa Sanskerta. Menurut para arif bijaksana, Ramayana dikatakan lebih tua daripada Mahabharata. Keduanya memuat uraian tentang adat istiadat, kebiasaan, dan kebudayaan manusia di jaman dahulu.

Pengarang-penyair epos Ramayana adalah Walmiki, dan pengarang-penyair epos Mahabharata adalah Bhagawan Wyasa. Menurut para arif bijaksana pula, kedua karya besar itu menjadi sungguh-sungguh besar seperti yang kita kenal sekarang, karena banyak cerita puitis ditambahkan kemudian, dan pengarang banyak menambahkan pujian dan berbagai keterangan, meskipun tambahan ini bukan sepenuhnya hasil karya pengarang, namun kemudian menjadi bagian dari epos itu.

Mahabharata berasal dari kata maha yang berarti �besar� dan kata bharata yang berarti �bangsa Bharata�. Pujangga Panini menyebut Mahabharata sebagai �Kisah Pertempuran Besar Bangsa Bharata�. Dalam anggapan tradisional, Bhagawan Wyasa sebagai pengarang-penyair epos Mahabharata, dikatakan juga menyusun kitab-kitab suci Weda, Wedanta, dan Purana, kira-kira pada 300 tahun sebelum Masehi sampai abad keempat Masehi. Dengan jarak waktu seperti itu, maka sulit dipercaya bahwa Bhagawan Wyasa adalah pengarang-penyair Mahabharata dan juga penyusun-pencipta kitab-kitab suci.

Dalam kitab-kitab suci Purana dikenal adanya wyasa yang berjumlah 28 orang. Kata wyasa artinya �penyusun� atau �pengatur�. Dalam hubungan arti ini maka mungkin penyusun-pencipta atau pengarang-penyair pada jaman dahulu disebut Bhagawan Wyasa. Terlebih jika hasil ciptaannya merupakan monumen atau mahakarya dari jamannya, maka wajarlah para pengarang-pencipta itu mendapat pujian dan dihormati jika tidak boleh dikatakan �didewa-dewakan�. Lagi pula, tidak jarang dijumpai, suatu ciptaan atau karya besar dari jaman dahulu itu tanpa nama atau tidak diketahui pengarang-penciptanya. Situasi semacam ini kiranya menambah kuat kesimpulan yang menyatakan bahwa karya-karya itu adalah ciptaan seorang wyasa, atau dengan sebutan penghormatan: Bhagawan Wyasa.

Interpretasi ini dikuatkan oleh pendapat seorang sarjana kebudayaan kuna yang mengatakan, �Maha- bharata bukan hanya suatu buku, melainkan karya kesusastraan yang luas cakupannya dan disusun dalam jangka waktu yang sangat lama.� Pendapat M. Winternitz itu didasarkan pada kisah-kisah dalam epos Mahabharata yang melukiskan kejadian, peristiwa, masalah dan berbagai keterangan tentang keadaan masyarakat dan pemerintahan yang terdapat dalam kitab- kitab suci Weda, Wedanta, dan Purana.

Meskipun demikian, para ahli kebudayaan kuna dari Barat maupun Timur, baik yang bersepakat dengan pendapat tradisional maupun pendapat modern, semua setuju bahwa pengarang-penyair atau penyusun epos Mahabharata adalah Wyasa, atau secara lengkap disebut Krishna Dwaipayana Wyasa.

Wyasa adalah anak Resi Parasara dengan Satyawati, buah dari hubungan yang tidak sah. Wyasa dibesarkan di dalam lingkungan keagamaan dan kesusastraan dengan bimbingan ayahnya. Satyawati, gadis nelayan yang ayu itu, diceritakan menjadi gadis perawan lagi berkat restu suci Resi Parasara, suaminya.


Raja Santanu bertemu dengan Satyawati di tepi hutan. Sang Raja jatuh cinta kepadanya dan mengangkat Satya- wati menjadi permaisurinya. Santanu adalah kakek Drita- rastra dan Pandu, dan moyang Kaurawa dan Pandawa. Sebagai putra Satyawati, boleh dikatakan Wyasa adalah kakek tiri dan berkerabat dekat dengan Kaurawa dan Pan- dawa yang menjadi pelaku utama dalam perang dahsyat di padang Kurukshetra.

Jika kita cermati garis keturunan Wyasa, kita akan tahu bahwa wajar jika Wyasa dapat melukiskan peristiwa dalam Mahabharata dengan sangat jelas dan mengharukan. Teristimewa pula, Wyasa dapat dikatakan selalu �terlibat� dalam peperangan besar itu, setidak-tidaknya dari segi moral dan spiritual.

Waishampayana, murid Wyasa, menceritakan kisah pertempuran besar itu kepada Raja Janamejaya ketika sang Raja melangsungkan upacara besar Sunaka. Jana- mejaya adalah putra Maharaja Parikeshit, cucu Arjuna.
Mengenai sejarah disusunnya epos Mahabharata, dijumpai banyak pendapat yang saling berlawanan, baik pendapat sarjana Barat maupun sarjana Timur. Pendapat dari Timur menyatakan bahwa Bhagawan Wyasa hidup kira-kira 3800 tahun yang lalu, yaitu pada jaman disusun- nya kitab-kitab suci Weda bagi orang Hindu. Pendapat lain menyatakan bahwa jaman kitab-kitab suci Weda adalah sekitar tahun 3102 SM. Pendapat lainnya lagi menyatakan bahwa jaman kitab-kitab suci Weda berakhir pada tahun 950 SM atau mungkin pada tahun 250 SM.

Dalam bukunya yang berjudul The Great Epic of India, E.W. Hopkins mengemukakan pendapatnya, yang pada umumnya diterima oleh para ahli kesusastraan kuna, yaitu bahwa perkembangan epos Mahabharata dari bentuk aslinya hingga menemui bentuknya yang sekarang ini adalah sebagai berikut:

Tahun 400 SM terdapat kisah tentang asal-usul bangsa Bharata, tetapi Pandawa belum dikenal pada masa itu.

Tahun 400-200 SM muncul kisah-kisah tentang Mahabrata yang menceritakan bahwa Pandawa adalah pahlawan-pahlawan yang memegang peranan utama dan Krishna adalah manusia setengah dewa.
Antara tahun 300 SM-100-200 M, Krishna dikisahkan sebagai Dewa. Ada penambahan kisah-kisah baru yang bersifat didaktis yang bertujuan untuk mempertinggi semangat dan moral-spiritual para pembaca.
Tahun 200-400 M, bab-bab pendahuluan dan bahan- bahan baru ditambahkan.

Pendapat tersebut di atas didukung kesimpulan M. Winternitz yang mengatakan bahwa Mahabharata tidak mungkin ditulis sebelum abad 4 SM dan tidak mungkin pula pada abad 4 M.

Para ahli kesusastraan dan filsafat Barat mulai tertarik pada kisah-kisah epos Mahabharata sejak kira-kira dua abad yang lalu, lebih-lebih karena adanya Bhagavadgita dan episode Syakuntala. Charles Wilkins telah bekerja keras menerjemahkan naskah kesusastraan yang mengandung filsafat ini pada tahun 1758 dan tahun 1795. Episode Mahabharata diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Bopp pada tahun 1819. Sejarah perkembangan epos Mahabharata secara kritis dipelajari oleh Ch. Lassen pada tahun 1837. Ch. Lassen berpendapat bahwa epos asli Mahabharata lahir kira-kira pada tahun 400-500 SM.

A. Weber (1852) dan A. Ludwig (1884) mencoba mengadakan penelitian tentang asal-usul epos Mahabharata. Mereka menyimpulkan bahwa memang terdapat hubungan yang mendasar antara sumber-sumber kitab suci Weda dan materi epos Mahabharata.

Soren Sorenson melakukan penelitian tentang Maha- bharata pada tahun 1883 untuk menemukan rekonstruksi karya besar itu dan menarik kesimpulan bahwa epos ini bentuk aslinya adalah sebuah saga, ciptaan pemikiran seseorang yang tidak mengandung pertentangan, ulangan atau penyimpangan. Dengan menyisihkan semua tambahan pada aslinya, Sorenson berpendapat bahwa epos Mahabharata yang asli terdiri dari 7000 sampai 8000 sloka.

Para sarjana Timur, khususnya dari India, sekarang beranggapan bahwa peristiwa-peristiwa bersejarah dalam epos Mahabharata terjadi antara 1400 -1000 SM dan bahwa kehadiran epos yang besar itu tidak mungkin sebelum atau sesudah kurun waktu itu.

Kisah yang diceritakan dalam epos Mahabharata adalah konflik antara dua saudara sepupu, Kaurawa dan Pandawa, yang berkembang menjadi suatu perang besar dan menyebabkan musnahnya bangsa bharata yang juga disebut bangsa Kuru.

BERIKUT BEBERAPA DAFTAR JUDUL-JUDUL BAGIAN CERITA DALAM KISAH MAHABRATA

Cinta Dushmanta Terpaut di Hutan;
Dewabrata, Putra Raja Santanu dan Dewi Gangga;
Dewabrata Bersumpah Sebagai Bhisma;
Amba, Ambika, dan Ambalika;
Ilmu Gaib Sanjiwini;
Kutukan Mahaguru Sukra;
Yayati Tua Ingin Muda Kembali;
Mahatma Widuri;
Pandu Memenangkan Sayembara Dewi Kunti;
Pandawa Lahir di Hutan;
Bhima Menjadi Sakti Karena Racun dan Bisa;
Karna, Anak Sais Kereta Kuda;
Drona, Seorang Brahmana _Kesatria;
Istana Dari Papan Kayu;
Pandawa Terhindar dari Maut;
Bakasura Terbunuh;
Sayembara Memperebutkan Draupadi;
Membangun Ibukota Indraprastha;
Pertarungan Melawan Jarasandha;
....
....
....
....
dst, hingga
Pengadilan Terakhir.

sumber: http://gokmanfn.blogspot.com/2013/04...e="2 Jempol"/>
SHARE THIS POST:
FB Share Twitter Share

Blog Archive